Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, RSUD Jusuf SK Ajak Masyarakat Saling Mendengarkan
TARAKAN – Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day setiap 10 Oktober menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental sekaligus memberi ruang bagi mereka yang memiliki pengalaman hidup dengan gangguan kesehatan jiwa.
Pada 2026, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia mengusung tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”, yang bermakna mendengarkan pengalaman nyata untuk menghadirkan perubahan nyata.
Tema tersebut menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman orang-orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental serta melibatkan suara mereka dalam pembentukan kebijakan, layanan dukungan, dan praktik di lingkungan kerja.
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pertama kali diperingati pada 1992 atas prakarsa World Federation for Mental Health (WFMH).
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada September 2025 menunjukkan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi dua kondisi yang paling umum, dengan dampak besar terhadap kehidupan sosial dan perekonomian.
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau diperkirakan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang. Beban depresi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut hanya 12,7 persen penderita depresi yang menerima pengobatan. Artinya, sebagian besar penderita belum mendapatkan penanganan yang memadai.
Sementara itu, Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan sekitar 34,9 persen remaja berusia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Untuk memperluas akses layanan, Kemenkes terus memperkuat pelayanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Sebanyak 6.549 puskesmas atau sekitar 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Rahmawati Nur Indah, Sp.KJ, mengatakan pengalaman setiap orang dalam menghadapi persoalan kesehatan mental dapat berbeda-beda.
Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak harus selalu dimulai dengan langkah besar. Hal terpenting adalah mengenali kebutuhan diri sendiri dan memahami kondisi yang sedang dihadapi.
Menurutnya, pengalaman hidup seseorang merupakan sumber pengetahuan penting untuk membangun dukungan dan layanan kesehatan mental yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi persoalan emosional.
Berbicara memang dapat membantu, tetapi didengarkan dengan baik juga memberikan dampak besar. Seseorang yang merasa didengarkan akan lebih mudah merasa dipahami, tidak sendirian, dan mampu menghadapi tantangan yang dialaminya.
Tiga Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan Mental
dr. Rahmawati mengajak masyarakat memulai upaya menjaga kesehatan mental melalui tiga kebiasaan sederhana.
Pertama, menjaga pola tidur dengan membiasakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari. Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas yang mengganggu waktu istirahat, termasuk terlalu lama menatap layar ponsel menjelang tidur.
Kedua, tetap aktif bergerak melalui kegiatan ringan yang dilakukan secara rutin, seperti berjalan kaki, peregangan, atau yoga.
Ketiga, memberikan waktu jeda ketika mulai merasa lelah, kewalahan, atau menghadapi terlalu banyak tekanan.
Selain menjaga kesehatan diri sendiri, masyarakat juga dapat membantu orang terdekat yang sedang menghadapi persoalan mental dengan memberikan dukungan yang tepat.
dr. Rahmawati menyarankan agar masyarakat memilih waktu dan tempat yang nyaman untuk berbicara, kemudian mendengarkan tanpa menghakimi.
Biarkan orang tersebut bercerita sesuai dengan kenyamanannya. Ajukan pertanyaan terbuka, hindari asumsi atau membandingkan masalahnya dengan pengalaman orang lain, serta jangan terburu-buru memberikan solusi. Mengakui perasaan seseorang dapat membuatnya merasa dipahami dan dihargai.
“Terkadang merasa didengarkan jauh lebih ampuh daripada nasihat,” jelasnya. Setelah mendengarkan, masyarakat dapat membantu orang tersebut memikirkan langkah berikutnya dengan mengajukan pertanyaan, seperti, “Menurut Anda, apa yang akan membantu saat ini?”
Kenali Tanda Stres dan Jangan Ragu Mencari Bantuan
Lebih lanjut, dr. Rahmawati menjelaskan bahwa stres merupakan respons fisik dan emosional ketika seseorang menghadapi tekanan atau perubahan yang membutuhkan penyesuaian diri. Apabila tidak dikelola dengan baik, stres dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan memengaruhi perilaku seseorang.
Dampaknya dapat berupa keengganan berinteraksi dengan orang lain, perubahan pola makan, kesulitan mengendalikan amarah, hingga penggunaan alkohol, obat-obatan, atau rokok secara berlebihan.
Sejumlah tanda yang perlu diwaspadai antara lain perasaan sedih, cemas, atau mudah marah secara berlebihan; kesulitan berkonsentrasi; merasa kesepian atau tidak berharga; gangguan tidur yang menetap; serta kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, masyarakat disarankan segera mencari bantuan profesional.
Untuk membantu mengelola stres, dr. Rahmawati menyarankan masyarakat mengenali penyebab dan menentukan prioritas, meluangkan waktu untuk beristirahat, melakukan relaksasi, rutin beraktivitas fisik, tidur cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Masyarakat juga dapat bercerita kepada orang yang dipercaya, menekuni hobi yang bermanfaat, mengembangkan pola pikir positif, memperkuat kehidupan spiritual sesuai keyakinan, dan menghindari cara-cara pelarian yang membahayakan kesehatan.
Jika stres menetap atau semakin mengganggu aktivitas, konsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikiater atau psikolog klinis, menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.
“Dengarkan tanpa menghakimi, pahami tanpa berasumsi, dukung tanpa membatasi,” pesan dr. Rahmawati.
Melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak masyarakat Kalimantan Utara untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jiwa, membangun kebiasaan saling mendengarkan, serta tidak ragu mencari pertolongan ketika dibutuhkan.
Setiap pengalaman berharga untuk didengarkan. Setiap orang juga berhak mendapatkan dukungan dan akses terhadap layanan kesehatan jiwa yang sesuai kebutuhannya. (humas_rsud)
“Pantau terus webiste RSUD dr. H. Jusuf SK Provinsi Kalimantan Utara.”




