RSUD dr. H. Jusuf SK Jadi Tim Pengampu Pelatihan Deteksi Dini Penyakit Gigi dan Mulut bagi Puskesmas se-Kalimantan Utara

RSUD dr. H. Jusuf SK Jadi Tim Pengampu Pelatihan Deteksi Dini Penyakit Gigi dan Mulut bagi Puskesmas se-Kalimantan Utara

TARAKAN – Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) RSUD dr. H. Jusuf SK berperan sebagai tim pengampu dalam Pelatihan Deteksi Dini Penyakit Gigi dan Mulut bagi Pengelola Program Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Tahun 2026. Pelatihan ini diselenggarakan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara pada 26 Oktober hingga 1 November 2026 di Hotel Diamond Tarakan.

Sebanyak 30 peserta dari puskesmas di lima kabupaten/kota se-Kalimantan Utara mengikuti pelatihan selama tujuh hari secara tatap muka. Peserta diutamakan pengelola program kesehatan gigi dan mulut, dokter gigi, atau terapis gigi dan mulut.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi peserta dalam melakukan deteksi dini serta identifikasi awal gangguan atau penyakit gigi dan mulut. Dengan kemampuan tersebut, peserta diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan, melakukan rujukan tepat waktu, dan turut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan ini juga sejalan dengan kebutuhan tenaga kesehatan terlatih dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis. Hal ini penting mengingat Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat masalah kesehatan mulut dialami 56,9 persen penduduk usia 3 tahun ke atas.

Materi yang diberikan meliputi kebijakan dan manajemen program kesehatan gigi dan mulut, promosi kesehatan sesuai siklus kehidupan, deteksi dini penyakit gigi dan mulut, tata laksana rujukan, penggunaan fluoride sesuai indikasi, serta pencatatan dan pelaporan. Peserta juga mengikuti praktik lapangan dan menyusun rencana tindak lanjut untuk diterapkan di puskesmas masing-masing. Dalam rangkaian pelatihan, RSUD dr. H. Jusuf SK turut mengisi sesi Anti Korupsi.

Sebagai tim pengampu, Bagian Diklat RSUD dr. H. Jusuf SK bertanggung jawab atas koordinasi kegiatan dan dukungan penyelenggaraan, sehingga pelatihan berjalan sesuai kurikulum dan ketentuan yang berlaku.

Ke depan, RSUD dr. H. Jusuf SK berharap dapat terus berperan sebagai pengampu berbagai pelatihan kesehatan di Kalimantan Utara. Peran ini sejalan dengan upaya memperkuat kompetensi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan primer, khususnya di wilayah yang akses layanannya masih terbatas. Melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan para mitra, RSUD dr. H. Jusuf SK ingin menjadi pusat pembelajaran yang mendukung peningkatan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat di seluruh Kalimantan Utara. (humas_rsud)

(more…)

Lebih Fleksibel dan Transparan, RSUD dr. H. Jusuf SK Luncurkan Aksi Perubahan OPEN ABC dan DIPINANG MAS

Lebih Fleksibel dan Transparan, RSUD dr. H. Jusuf SK Luncurkan Aksi Perubahan OPEN ABC dan DIPINANG MAS

TARAKAN – RSUD dr. H. Jusuf SK menggelar peluncuran (launching) dan pembimbingan aksi perubahan dalam rangka Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA), yang menghadirkan dua inovasi yaitu OPEN ABC dan DIPINANG MAS, di Hall A lantai 6, Senin (02/11/2026).

Dalam PKA, peserta diminta menyusun dan menjalankan aksi perubahan di unit kerjanya. Di RSUD dr. H. Jusuf SK, dua aksi perubahan tersebut menjawab dua kebutuhan yaitu layanan yang lebih fleksibel bagi pasien dan pengelolaan keuangan yang lebih tertib.

OPEN ABC (Optimalisasi Pendapatan melalui Appointment Based Clinic) atau Klinik Perjanjian digagas dr. Wina Marlin, MPH, selaku Kepala Bidang Pengelolaan Pendapatan. Klinik ini menjadi alternatif layanan rawat jalan bagi pasien tunai atau pengguna asuransi swasta, yang mengedepankan fleksibilitas dalam memilih waktu kunjungan sesuai kebutuhan pasien.

Inovasi ini juga menjadi bagian dari strategi memperkuat pendapatan non-JKN secara bertanggung jawab, tanpa mengurangi komitmen terhadap pelayanan reguler.

Ke depan, Klinik Perjanjian diharapkan memiliki sarana yang lebih mandiri, pilihan jadwal dokter yang lebih luas, dan peluang layanan akhir pekan sesuai hasil evaluasi. Dalam jangka panjang, keberhasilannya dapat menjadi landasan pengembangan klinik eksekutif, one day care, dan home care, dengan tetap memperhatikan kesiapan tenaga, keselamatan pasien, kelayakan biaya, dan ketentuan yang berlaku.

Aksi perubahan kedua, DIPINANG MAS (Digitalisasi Informasi Piutang Mitra Kerja Sama), digagas Suriati, S.STP., M.H. Inovasi ini mendorong pengelolaan piutang menjadi lebih cepat, akurat, transparan, dan terintegrasi. Harapannya, DIPINANG MAS dapat memperkuat tata kelola keuangan, meningkatkan efektivitas penagihan, dan mendukung optimalisasi pendapatan rumah sakit.

Dalam arahannya, Plt. Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Aziz B, Sp.PK., MH., mengajak seluruh jajaran menjaga komitmen dan memantau mutu pelayanan, kepuasan pasien, serta kinerja keuangan secara berkala. Inovasi diharapkan terus berkembang dan memberi kontribusi nyata bagi kemandirian BLUD serta pelayanan kesehatan masyarakat Kalimantan Utara. Berikut nomor reservasi Klinik Perjanjian melalui WhatsApp-081253288042. (humas_rsud)

(more…)

Silent Disease Pengeroposan Tulang, Dokter Ortopedi RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Waspada

Silent Disease Pengeroposan Tulang, Dokter Ortopedi RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Waspada

TARAKAN – Setiap 20 Oktober, dunia memperingati Hari Osteoporosis Sedunia. Menyambut momentum ini, dr. I Putu Gede Pradnyadewa, Sp.OT, Subsp.OTB, dokter RSUD dr. H. Jusuf SK, menyampaikan edukasi kepada masyarakat tentang osteoporosis, penyakit pengeroposan tulang yang sering datang tanpa keluhan.

dr. Putu menjelaskan bahwa tulang adalah jaringan hidup yang terus diperbarui melalui keseimbangan kerja sel pembentuk dan sel pengurai tulang. Massa tulang mencapai puncaknya pada usia sekitar 20-30 tahun, lalu perlahan menurun. Pada perempuan, penurunan terjadi lebih cepat setelah menopause.

Menurutnya, osteoporosis adalah penurunan massa tulang disertai kerusakan struktur mikro jaringan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah, bahkan karena benturan ringan. Ia meluruskan anggapan bahwa osteoporosis hanya disebabkan kekurangan kalsium.

“Osteoporosis tidak hanya karena kekurangan kalsium. Hormon, usia, genetik, gaya hidup, penyakit, dan obat-obatan ikut berperan,” jelas dr. Putu.

Secara global, sekitar 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis, dan patah tulang panggul maupun tulang belakang dapat menurunkan kemandirian serta meningkatkan risiko kematian. Karena itu osteoporosis disebut penyakit senyap (silent disease), sebab biasanya tidak bergejala sampai terjadi patah tulang.

dr. Putu mengingatkan beberapa tanda yang perlu diwaspadai, yaitu nyeri mendadak di punggung atau panggul setelah terjatuh, tinggi badan berkurang 3-4 cm atau lebih, dan postur yang membungkuk. Patah tulang paling sering terjadi di tulang belakang (sering tidak disadari), panggul, pergelangan tangan, dan lengan atas.

Faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi usia lanjut, jenis kelamin perempuan dan menopause, serta postur tubuh kecil. Adapun yang dapat diubah meliputi merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang asupan kalsium dan vitamin D, serta berat badan terlalu rendah. Penggunaan steroid jangka panjang, diabetes, penyakit ginjal kronik, dan gangguan hormon tertentu juga meningkatkan risiko.

Pemeriksaan kepadatan tulang dianjurkan bagi perempuan berusia 65 tahun ke atas, laki-laki berusia 70 tahun ke atas, perempuan pascamenopause, serta pengguna obat kortikosteroid jangka panjang. Pemeriksaan standar emasnya adalah DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry).

“Kabar baiknya, osteoporosis dapat dicegah dan diobati. Kuncinya, jangan menunggu sampai patah tulang untuk peduli pada kesehatan tulang,” ujar dr. Putu.

Untuk pencegahan, dr. Putu menyarankan mencukupi kalsium dari susu, yogurt, ikan kecil yang dimakan bersama tulangnya, tahu, tempe, dan sayuran hijau, serta vitamin D dari sinar matahari pagi sekitar 10-15 menit beberapa kali seminggu. Olahraga yang melatih kekuatan otot dan keseimbangan perlu dilakukan teratur. Berat badan dijaga tetap sehat, dan merokok serta alkohol dihindari.

Ia juga menekankan pentingnya mencegah jatuh. Pastikan rumah berpenerangan cukup, lantai tidak licin, tersedia pegangan di kamar mandi, gunakan alas kaki yang aman, serta periksakan penglihatan dan tinjau obat yang menyebabkan pusing atau kantuk.

Bagi yang sudah terdiagnosis, tujuan utama pengobatan adalah mencegah patah tulang. Kalsium dan vitamin D menjadi dasar terapi, dan dokter dapat memberikan obat tambahan sesuai tingkat risiko. Jenis dan lama terapi ditentukan dokter. Terapi hormon, kata dr. Putu, tidak dianjurkan sebagai pengobatan rutin hanya untuk osteoporosis dan perlu dikonsultasikan manfaat serta risikonya.

RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak masyarakat memulai dari kebiasaan sederhana, dan berkonsultasi ke dokter bila termasuk kelompok berisiko. (humas_rsud)

(more…)

Perkuat Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan Anak, RSUD dr. H. Jusuf SK Gelar Pelatihan PALS Bagi 25 Perawat

Perkuat Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan Anak, RSUD dr. H. Jusuf SK Gelar Pelatihan PALS Bagi 25 Perawat

TARAKAN – RSUD dr. H. Jusuf SK menyelenggarakan Pelatihan Pediatric Advanced Life Support (PALS) bagi perawat tatanan klinik Tahun 2026. Pelatihan yang diikuti 25 perawat dari unit anak, kritis, dan emergensi ini berlangsung selama enam hari, 20–25 Oktober 2026, dan resmi ditutup pada Minggu (25/10/2026).

Bayi dan anak sangat rentan mengalami kegawatdaruratan pernapasan dan sirkulasi. Karena itu, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan perawat pelaksana dalam menangani kondisi gawat darurat secara cepat, tepat, dan terstruktur sesuai standar internasional American Heart Association (AHA). Secara umum, peserta diharapkan mampu melakukan penatalaksanaan kegawatdaruratan pernapasan dan kardiovaskular pada bayi dan anak di tatanan klinik.

Pelatihan dengan beban studi 44 jam pelajaran (JPL) ini terdiri dari 18 JPL teori dan 26 JPL praktik, dengan metode blended learning dalam dua tahap. Tahap I dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 20–22 Oktober 2026 dengan materi dasar, inti, dan penunjang. Tahap II dilaksanakan secara luring di Lantai 6 RSUD dr. H. Jusuf SK pada 23–25 Oktober 2026, berisi skill station, simulasi megacode, dan ujian praktik.

Materi yang diberikan mencakup etik dan aspek legal keperawatan, tumbuh kembang anak, Basic Life Support (BLS) dan AED, Pediatric Assessment Triangle (PAT), primary dan secondary assessment, team dynamics, penatalaksanaan kegawatan respirasi, syok, aritmia, hingga perawatan pasca henti jantung (post cardiac arrest care). Peserta juga mendapat materi Building Learning Commitment (BLC), anti korupsi, dan rencana tindak lanjut (RTL).

Pelatihan ini dibimbing para instruktur dan narasumber dari RS Harapan Kita, Universitas Borneo Tarakan (UBT), serta RSUD dr. H. Jusuf SK.

Peserta dievaluasi melalui post-test pengetahuan (bobot 20%), penilaian empat skill station (bobot 30%), dan ujian praktik megacode (bobot 50%). Peserta yang dinyatakan lulus akan memperoleh Sertifikat Pelatihan Terakreditasi Kemenkes RI melalui platform SiAkpel/PlatSehat.

Penutupan pelatihan dilakukan oleh Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan RSUD dr. H. Jusuf SK, Ns. Triana Kusumaningsih, S.Kep. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan harapan agar ke depan RSUD dr. H. Jusuf SK dapat kembali menyelenggarakan pelatihan PALS angkatan 2, sehingga semakin banyak perawat yang memiliki kompetensi penanganan kegawatdaruratan pada bayi dan anak.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, RSUD dr. H. Jusuf SK berharap para perawat dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperoleh untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan bagi pasien anak. (humas_rsud)

(more…)

Dikukuhkan, Pengurus DWP RSUD dr. H. Jusuf SK Diajak Dukung Program Pemerintah Kaltara

Dikukuhkan, Pengurus DWP RSUD dr. H. Jusuf SK Diajak Dukung Program Pemerintah Kaltara

TARAKAN – Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUD dr. H. Jusuf SK, Ny. Andi Sabariah Budy Aziz B, dikukuhkan bersama pengurus DWP organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Kamis, (22/10/2026). Pengukuhan berlangsung di Aula Pertemuan Lantai 1 Kantor Gubernur Kalimantan Utara, dengan pengurus DWP OPD lain turut mengikuti prosesi melalui Zoom Meeting dari kantor masing-masing.

Pengukuhan dilakukan oleh Ketua DWP Provinsi Kalimantan Utara, Ny. Sipta Meylina Denny Harianto. Susunan acara juga diisi pembacaan SK pengukuhan oleh Sekretaris Umum DWP Provinsi Kalimantan Utara, Ny. Puspita Rini Jaini, sambutan Ketua DWP Provinsi, serta sambutan Penasihat DWP Provinsi Kalimantan Utara yang dalam hal ini Gubernur Kalimantan Utara.

Sambutan Gubernur Kalimantan Utara disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Utara, H. Denny Harianto, S.E., M.M. Dalam sambutannya, ia mengucapkan selamat atas pengukuhan tersebut dan menyebut DWP sebagai wadah himpunan istri ASN yang memberikan dukungan kepada suami dalam menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara.

Para ibu pengurus DWP diharapkan senantiasa memotivasi suami dalam menjalankan tugas negara. DWP juga diminta berperan sebagai benteng dalam pembentukan karakter di dalam keluarga.

“Keluarga yang bersih dan berintegritas harus menjadi tujuan kita bersama,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak DWP untuk hadir dan berkolaborasi dalam mendukung program Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Di akhir sambutan, ia mengucapkan selamat bertugas kepada seluruh pengurus DWP yang telah dikukuhkan.

Dengan dikukuhkannya Ny. Andi Sabariah Budy Aziz B sebagai Ketua, DWP RSUD dr. H. Jusuf SK diharapkan dapat menjalankan program yang bermanfaat bagi keluarga besar rumah sakit, serta bersinergi dengan program pemerintah daerah. (humas_rsud)

(more…)

Be a Handwashing Hero, RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Biasakan Cuci Tangan Pakai Sabun

Be a Handwashing Hero, RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Biasakan Cuci Tangan Pakai Sabun

TARAKAN – Setiap 15 Oktober, dunia memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (Global Handwashing Day). Mengusung ajakan “Be a Handwashing Hero”, RSUD dr. H. Jusuf SK mengimbau pasien, pengunjung, dan masyarakat untuk menjadikan cuci tangan pakai sabun sebagai kebiasaan sehari-hari.

Tangan dapat membawa kuman dari permukaan benda ke mata, hidung, mulut, makanan, atau orang lain. Dengan mencuci tangan, perpindahan kuman dapat diputus sehingga risiko penularan penyakit, termasuk diare dan infeksi saluran pernapasan, dapat ditekan. Kebiasaan ini sangat penting di rumah sakit, tempat banyak orang membutuhkan perlindungan dari infeksi.

Cuci tangan dengan sabun dilakukan dengan menggosok seluruh permukaan tangan selama 40-60 detik, lalu membilas dengan air mengalir dan mengeringkannya dengan cara yang bersih. Bila tangan tidak tampak kotor dan tersedia handrub berbasis alkohol, seluruh permukaan tangan cukup digosok selama 20-30 detik hingga kering.

Waktu-waktu penting untuk mencuci tangan adalah sebelum makan, setelah menggunakan toilet, saat tangan kotor, setelah batuk atau bersin, sebelum dan sesudah mengunjungi orang sakit, serta setelah memegang hewan.

Pasien dan pengunjung diimbau membersihkan tangan sebelum dan sesudah menyentuh pasien atau lingkungan sekitarnya. Hindari menyentuh luka, infus, kateter, atau alat medis tanpa arahan petugas. Bila batuk atau bersin, tutup dengan benar, gunakan masker bila dianjurkan, dan ikuti aturan kunjungan rumah sakit. Bagi tenaga kesehatan, kebersihan tangan mengikuti lima momen standar WHO, yaitu sebelum menyentuh pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh lingkungan pasien.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain hanya membasahi tangan tanpa sabun, melewatkan sela jari, ibu jari, ujung jari, dan kuku, membilas terlalu cepat atau mengeringkan dengan kain yang kotor, menyentuh kembali keran atau permukaan kotor (gunakan tisu atau siku untuk mematikan keran), serta menganggap sarung tangan dapat menggantikan cuci tangan. Cuci tangan tetap perlu dilakukan sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.

Melalui peringatan ini, RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak semua pihak menjadi pahlawan kebersihan tangan: bersihkan tangan dengan benar, lindungi diri sendiri, serta lindungi keluarga dan pasien. Satu kebiasaan kecil, manfaat besar untuk semua. (humas_rsud)

(more…)

Tingkatkan Mutu Layanan, Poli Gigi dan Bedah Mulut RSUD dr. H. Jusuf SK Evaluasi Kinerja Bersama

Tingkatkan Mutu Layanan, Poli Gigi dan Bedah Mulut RSUD dr. H. Jusuf SK Evaluasi Kinerja Bersama

TARAKAN – Poliklinik Gigi dan Bedah Mulut RSUD dr. H. Jusuf SK menggelar kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) rutin, Jumat, (16/10/2026), bertempat di Poli Gigi RSUD dr. H. Jusuf SK. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat.

Monev dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Medis Fungsional (SMF) Gigi dan Mulut, drg. Maria Montessory, Sp.BMM., M.Ked.Klin., yang akrab disapa drg. Montes. Kegiatan ini diikuti seluruh dokter spesialis, termasuk periodontis dan pedodontis, serta perawat gigi.

Dalam arahannya, drg. Montes menekankan beberapa hal penting untuk terus dijaga seluruh tim. Pertama, kesolidan dan kekompakan antar dokter, antar perawat, maupun antara dokter dan perawat, karena pelayanan yang baik lahir dari kerja sama tim yang solid.

Kedua, sikap ramah kepada siapa pun, terutama saat melayani pasien. Keramahan dinilai menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan, sebab pasien yang datang berobat gigi sering kali datang dengan rasa cemas dan membutuhkan pendekatan yang menenangkan.

Ketiga, menjaga kebersihan dan kerapian ruangan poli, yang berkaitan langsung dengan kenyamanan dan keselamatan pasien.

“Kekompakan tim, keramahan kepada pasien, serta kebersihan dan kerapian poli adalah hal-hal mendasar yang harus terus kita jaga bersama,” ujar drg. Montes.

Dalam kesempatan ini juga disampaikan bahwa akan diselenggarakan pemilihan Perawat Gigi Terbaik tahun 2026 sebagai bentuk apresiasi sekaligus pemacu semangat perawat gigi dalam memberikan pelayanan terbaik.

Monev juga membahas sejumlah kebutuhan penunjang pelayanan, antara lain permintaan alat dan bahan serta pengajuan sarana dan prasarana poli. Hal-hal tersebut menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut untuk dikomunikasikan kepada manajemen rumah sakit sesuai kemampuan anggaran, agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan optimal.

Poli Gigi dan Bedah Mulut menerapkan monev secara berkala dalam dua bentuk, yaitu monev besar yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau bila ada hal penting, serta monev mini yang dilaksanakan setiap sebulan sekali. Kegiatan berkala ini dimaksudkan agar evaluasi dilakukan terus-menerus dan setiap kendala dapat segera ditindaklanjuti.

Melalui monev rutin ini, Poli Gigi dan Bedah Mulut RSUD dr. H. Jusuf SK berharap kualitas pelayanan terus meningkat, tim semakin kompak, dan masyarakat Kalimantan Utara semakin nyaman memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya di rumah sakit. (humas_rsud)

(more…)

Dukung Keberlangsungan Layanan Kesehatan, RSUD dr. H. Jusuf SK Ikuti Rapat KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027

Dukung Keberlangsungan Layanan Kesehatan, RSUD dr. H. Jusuf SK Ikuti Rapat KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027

Tarakan – RSUD dr. H. Jusuf SK bersama sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemprov Kalimantan Utara (Kaltara) mengikuti rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2027.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Badan Penghubung (Banhub) Kaltara di Tarakan, Rabu (21/10/2026), merupakan bagian dari tahapan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.

Rapat dipimpin oleh Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltara bersama sejumlah anggota komisi yang menjadi mitra kerja RSUD dr. H. Jusuf SK.

Dari pihak rumah sakit, hadir Wakil Direktur (Wadir) Keuangan, Wadir Umum, sejumlah kepala bidang (kabid), serta jajaran terkait, khususnya dari bagian perencanaan dan keuangan.

Dalam rapat tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK memaparkan rencana program, kegiatan, serta usulan anggaran untuk Tahun Anggaran 2027 sebagai bahan pembahasan KUA-PPAS bersama DPRD Kaltara.

Pembahasan ini menjadi bagian penting dalam proses perencanaan anggaran daerah untuk mendukung pelaksanaan program dan kegiatan RSUD dr. H. Jusuf SK pada 2027, termasuk dalam menunjang keberlangsungan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (humas_rsud)

(more…)

Benjolan di Payudara Tak Selalu Kanker, tapi Jangan Ditunda: Dokter Bedah Onkologi RSUD dr. H. Jusuf SK Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Benjolan di Payudara Tak Selalu Kanker, tapi Jangan Ditunda: Dokter Bedah Onkologi RSUD dr. H. Jusuf SK Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

TARAKAN – Oktober diperingati sebagai Bulan Kepedulian Kanker Payudara Sedunia (Breast Cancer Awareness Month). Momentum ini menjadi pengingat bagi perempuan, dan juga keluarga, untuk mengenali kanker payudara sejak dini, sebab penyakit yang paling banyak menyerang perempuan ini jauh lebih mudah ditangani bila ditemukan lebih awal.

Menyambut peringatan ini, dr. Andhini Palinrungi, M.Kes., Sp.B., Subsp. Onk(K), dokter spesialis bedah subspesialis onkologi konsultan RSUD dr. H. Jusuf SK, mengajak masyarakat Kalimantan Utara untuk tidak menunda memeriksakan diri.

WHO memperkirakan pada 2024 terdapat 2,4 juta perempuan didiagnosis kanker payudara dan 694.000 meninggal dunia, dan kanker ini menjadi kanker terbanyak pada perempuan di 164 dari 186 negara. Di Indonesia, tercatat lebih dari 66.000 kasus baru pada 2022, atau sekitar 30,1 persen dari seluruh kasus baru kanker, dengan angka kematian sekitar 22.000 jiwa per tahun.

Yang menjadi perhatian, lebih dari 70 persen pasien di Indonesia pertama kali datang ke fasilitas kesehatan pada stadium III atau IV, ketika pengobatan sudah lebih kompleks dan peluang kesembuhan lebih kecil. Kemenkes juga mencatat dari 14 juta perempuan yang menjadi sasaran pemeriksaan, baru 4,1 juta yang menjalani pemeriksaan.

Menurut dr. Andhini, kanker payudara tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa faktor risiko. WHO menyebut jenis kelamin perempuan sebagai faktor risiko terkuat, disusul bertambahnya usia, obesitas, konsumsi alkohol yang berbahaya, riwayat keluarga, paparan radiasi, riwayat reproduksi seperti usia pertama kali haid dan usia kehamilan pertama, merokok, serta terapi hormon pascamenopause. Pedoman Kemenkes juga mencatat haid pertama sebelum usia 12 tahun, menopause terlambat, kehamilan pertama di usia 30 tahun atau lebih, penggunaan kontrasepsi hormonal lebih dari 10 tahun, serta kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor yang berkaitan dengan risiko.

Perlu dipahami pula bahwa sekitar 80 persen kanker payudara terjadi pada perempuan tanpa faktor risiko lain selain jenis kelamin dan usia di atas 40 tahun, dan sebagian besar penderita tidak memiliki riwayat keluarga yang diketahui. Artinya, setiap perempuan perlu waspada, bukan hanya yang memiliki faktor risiko.

“Banyak yang mengira kanker payudara hanya dialami mereka yang punya riwayat keluarga. Faktanya, sebagian besar pasien tidak memilikinya. Karena itu, siapa pun perempuan, terutama setelah usia 30 tahun, perlu rutin memeriksa payudaranya,” ujar dr. Andhini.

Tanda yang paling sering ditemukan adalah benjolan atau penebalan di payudara yang sering kali tidak terasa nyeri. Tanda lainnya meliputi perubahan ukuran, bentuk, atau tampilan payudara, kulit yang berlekuk, kemerahan, atau berlubang-lubang, perubahan pada puting atau kulit di sekitarnya, serta keluarnya cairan abnormal atau berdarah dari puting. Pedoman Kemenkes menambahkan puting yang tertarik ke dalam, kulit yang mengerut seperti kulit jeruk, luka yang tidak sembuh, dan benjolan di ketiak.

Sebagian besar benjolan di payudara bukan kanker. Namun, benjolan yang tidak normal tetap perlu diperiksa dokter, meskipun tidak terasa sakit.

“Benjolan yang tidak nyeri justru jangan dianggap aman. Kalau ada benjolan atau perubahan pada payudara yang menetap, segera periksa. Jangan menunggu sakit, dan jangan menunggu sampai membesar,” tegas dr. Andhini.

Langkah pertama adalah deteksi dini. Perempuan sejak usia pubertas hingga menopause dianjurkan melakukan periksa payudara sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan, dan segera ke fasilitas kesehatan bila teraba benjolan yang menetap setelah haid selesai. SADARI dilakukan dengan mengamati payudara di depan cermin pada beberapa posisi lengan, lalu meraba setiap payudara secara sistematis dan menekan puting untuk memeriksa ada tidaknya cairan. Kabar baiknya, kanker payudara stadium dini sangat mungkin disembuhkan.

“Kalau ditemukan dini, peluang sembuhnya jauh lebih baik dan pengobatannya lebih ringan. Jadi jangan takut memeriksakan diri. Ketakutan justru sering membuat pasien datang terlambat. Dan bila sudah didiagnosis, jalani pengobatan sampai selesai bersama tim dokter,” pesan dr. Andhini.

Melalui peringatan Bulan Kepedulian Kanker Payudara Sedunia 2026, RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak seluruh perempuan di Kalimantan Utara untuk mengenali tubuhnya sendiri, melakukan SADARI setiap bulan, dan segera memeriksakan diri bila menemukan perubahan pada payudara.(humas_rsud)

(more…)

Tiga Pasien Jalani Operasi Bypass Jantung dengan Lancar, RSUD dr H Jusuf SK Tarakan Perkuat Layanan Jantung di Kalimantan Utara

Tiga Pasien Jalani Operasi Bypass Jantung dengan Lancar, RSUD dr H Jusuf SK Tarakan Perkuat Layanan Jantung di Kalimantan Utara

TARAKAN – Komitmen menghadirkan pelayanan kesehatan jantung yang berkualitas dan semakin dekat dengan masyarakat terus diperkuat RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Melalui penyelenggaraan Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV) ke-7 pada 16–17 Oktober 2026, rumah sakit rujukan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini berhasil melaksanakan operasi bypass jantung terhadap tiga pasien.

Ketiga pasien menjalani tindakan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG), yakni prosedur bedah untuk membuat jalur baru aliran darah menuju otot jantung pada pasien dengan penyempitan atau sumbatan pembuluh darah koroner.

Seluruh rangkaian operasi dilaporkan berjalan lancar tanpa kendala berarti. Capaian ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan RSUD dr. H. Jusuf SK dalam memperkuat kapasitas pelayanan bedah jantung, sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap tindakan medis spesialistik di daerah sendiri.

Pelaksanaan BTKV ke-7 tidak hanya berfokus pada tindakan operasi, tetapi juga menjadi bagian dari program supervisi dan pengampuan atau proctoring layanan kardiovaskular.

Melalui program ini, tenaga medis RSUD dr. H. Jusuf SK memperoleh pendampingan langsung dari para dokter spesialis berpengalaman. Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat kompetensi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membangun kesiapan tim dalam menangani kasus bedah toraks, kardiak, dan vaskular secara berkelanjutan.

Kegiatan ini melibatkan Prof. Dr. med. dr. Paul L. Tahalele, Sp.BTKV, Subsp.VE(K), FIATCVS, selaku penasihat Himpunan Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Indonesia (HBTKVI), yang menjalankan peran supervisi dan pengampuan.
Turut terlibat dr. Ivan Joalsen Mangara Tua, Sp.BTKV, Subsp.VE(K), Ketua Komisi Bedah Jantung Dewasa dan Transplantasi sekaligus Koordinator Wilayah Kalimantan HBTKVI.

Dukungan juga diberikan oleh tim dari RSUP dr. Kariadi Semarang, yang terdiri atas dr. M. Ali Shodiq, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp.VE(K), sebagai dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular konsultan; Dr. dr. Widya Istanto Nurcahyo, Sp.An-TI, Subsp.An.KV(K), An.R(K), sebagai dokter spesialis anestesi konsultan kardiovaskular; serta Dr. dr. Danu Soesilowati, Sp.An-TI, Subsp.T.I(K), sebagai dokter spesialis anestesi konsultan terapi intensif.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan pentingnya kerja tim lintas keahlian dalam penyelenggaraan operasi jantung, mulai dari persiapan pasien, pelaksanaan tindakan bedah, pengelolaan anestesi, hingga pemantauan kondisi pasien setelah operasi.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Ronald Jan Palenteng, Sp.An., PCTI, menyampaikan bahwa pelaksanaan tiga operasi CABG pada BTKV ke-7 berlangsung lancar tanpa kendala berarti.

Menurutnya, kelancaran tindakan tersebut tidak terlepas dari kesiapan dan koordinasi seluruh tim yang terlibat, baik dari RSUD dr. H. Jusuf SK maupun tim mitra.

“Ketiga pasien CABG pada BTKV ke-7 ini sudah menjalani operasi dan seluruh rangkaian tindakan berjalan lancar. Kegiatan ini bukan yang pertama bagi kami. Setiap pelaksanaan menjadi kesempatan untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memperkuat kesiapan tim dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” ujar dr. Ronald.

Ia menegaskan, keberhasilan pelayanan bedah jantung membutuhkan kolaborasi yang solid dari berbagai unsur, tidak hanya dokter bedah, tetapi juga dokter anestesi, perawat bedah, perawat anestesi, tenaga perfusionis yang mengoperasikan mesin jantung-paru, serta tim perawatan intensif.

“Kerja sama yang solid antara tim ruang operasi, anestesi, perfusi, dan perawatan intensif sangat menentukan keberhasilan tindakan. Seluruh tahapan harus dipersiapkan dengan baik agar pasien mendapatkan penanganan yang optimal,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, tim perawat juga mengambil peran penting. Muhammad Ali Zabidi, AMK, dan M. Afif Sarifudin bertugas sebagai perawat bedah; Bangun Hari Pradono, S.Kep., Ners, sebagai perawat anestesi; Nanad Triyunadi Putra, S.Kep., Ners, dan Anis Heru Santiko, S.Kep., Ners, sebagai perawat perfusionis; serta Subiyanto, AMK, sebagai perawat ICCU.
Keterlibatan seluruh unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pelayanan, termasuk pemantauan pasien setelah menjalani operasi.

Tersedianya layanan operasi jantung di Kalimantan Utara memberikan peluang bagi pasien yang memenuhi indikasi medis untuk memperoleh tindakan bedah tanpa harus selalu dirujuk ke luar daerah.

Bagi pasien dan keluarga, akses layanan di daerah sendiri dapat membantu mengurangi beban perjalanan, kebutuhan akomodasi, serta tantangan pendampingan selama proses pengobatan. Meski demikian, keputusan tindakan dan kebutuhan rujukan tetap ditentukan berdasarkan kondisi klinis serta pertimbangan tim medis.

Pada pelaksanaan BTKV ke-7 ini, seluruh tindakan operasi bagi ketiga pasien ditanggung BPJS Kesehatan sesuai informasi rumah sakit. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung akses pelayanan bagi pasien yang memenuhi ketentuan jaminan kesehatan.
Penguatan layanan bedah jantung juga tidak berhenti pada terselenggaranya operasi. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, kesiapan fasilitas, koordinasi antarprofesi, serta pemantauan pascaoperasi merupakan bagian yang perlu terus dijaga agar pelayanan dapat berkembang secara konsisten.

Penyelenggaraan BTKV ke-7 menjadi bagian dari langkah RSUD dr. H. Jusuf SK untuk memperkuat layanan kardiovaskular di Kalimantan Utara.

Melalui program pengampuan yang berkelanjutan, rumah sakit berharap kapasitas tenaga medis semakin berkembang dan penanganan kasus bedah jantung dapat dilakukan dengan kesiapan yang semakin baik sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien.

Bagi masyarakat, penguatan layanan ini diharapkan membuka akses yang lebih dekat terhadap penanganan penyakit jantung koroner yang memerlukan tindakan bedah. Sementara bagi rumah sakit, setiap pelaksanaan BTKV menjadi kesempatan untuk mengevaluasi proses pelayanan, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan mutu layanan secara berkesinambungan.

RSUD dr. H. Jusuf SK berkomitmen untuk terus mengembangkan pelayanan kesehatan rujukan yang profesional, terjangkau, dan berorientasi pada keselamatan pasien, sehingga masyarakat Kalimantan Utara memiliki akses yang semakin baik terhadap layanan kesehatan jantung di daerah sendiri. (humas_rsud)

(more…)