Silent Disease Pengeroposan Tulang, Dokter Ortopedi RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Waspada
TARAKAN – Setiap 20 Oktober, dunia memperingati Hari Osteoporosis Sedunia. Menyambut momentum ini, dr. I Putu Gede Pradnyadewa, Sp.OT, Subsp.OTB, dokter RSUD dr. H. Jusuf SK, menyampaikan edukasi kepada masyarakat tentang osteoporosis, penyakit pengeroposan tulang yang sering datang tanpa keluhan.
dr. Putu menjelaskan bahwa tulang adalah jaringan hidup yang terus diperbarui melalui keseimbangan kerja sel pembentuk dan sel pengurai tulang. Massa tulang mencapai puncaknya pada usia sekitar 20-30 tahun, lalu perlahan menurun. Pada perempuan, penurunan terjadi lebih cepat setelah menopause.
Menurutnya, osteoporosis adalah penurunan massa tulang disertai kerusakan struktur mikro jaringan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah, bahkan karena benturan ringan. Ia meluruskan anggapan bahwa osteoporosis hanya disebabkan kekurangan kalsium.
“Osteoporosis tidak hanya karena kekurangan kalsium. Hormon, usia, genetik, gaya hidup, penyakit, dan obat-obatan ikut berperan,” jelas dr. Putu.
Secara global, sekitar 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis, dan patah tulang panggul maupun tulang belakang dapat menurunkan kemandirian serta meningkatkan risiko kematian. Karena itu osteoporosis disebut penyakit senyap (silent disease), sebab biasanya tidak bergejala sampai terjadi patah tulang.
dr. Putu mengingatkan beberapa tanda yang perlu diwaspadai, yaitu nyeri mendadak di punggung atau panggul setelah terjatuh, tinggi badan berkurang 3-4 cm atau lebih, dan postur yang membungkuk. Patah tulang paling sering terjadi di tulang belakang (sering tidak disadari), panggul, pergelangan tangan, dan lengan atas.
Faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi usia lanjut, jenis kelamin perempuan dan menopause, serta postur tubuh kecil. Adapun yang dapat diubah meliputi merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang asupan kalsium dan vitamin D, serta berat badan terlalu rendah. Penggunaan steroid jangka panjang, diabetes, penyakit ginjal kronik, dan gangguan hormon tertentu juga meningkatkan risiko.
Pemeriksaan kepadatan tulang dianjurkan bagi perempuan berusia 65 tahun ke atas, laki-laki berusia 70 tahun ke atas, perempuan pascamenopause, serta pengguna obat kortikosteroid jangka panjang. Pemeriksaan standar emasnya adalah DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry).
“Kabar baiknya, osteoporosis dapat dicegah dan diobati. Kuncinya, jangan menunggu sampai patah tulang untuk peduli pada kesehatan tulang,” ujar dr. Putu.
Untuk pencegahan, dr. Putu menyarankan mencukupi kalsium dari susu, yogurt, ikan kecil yang dimakan bersama tulangnya, tahu, tempe, dan sayuran hijau, serta vitamin D dari sinar matahari pagi sekitar 10-15 menit beberapa kali seminggu. Olahraga yang melatih kekuatan otot dan keseimbangan perlu dilakukan teratur. Berat badan dijaga tetap sehat, dan merokok serta alkohol dihindari.
Ia juga menekankan pentingnya mencegah jatuh. Pastikan rumah berpenerangan cukup, lantai tidak licin, tersedia pegangan di kamar mandi, gunakan alas kaki yang aman, serta periksakan penglihatan dan tinjau obat yang menyebabkan pusing atau kantuk.
Bagi yang sudah terdiagnosis, tujuan utama pengobatan adalah mencegah patah tulang. Kalsium dan vitamin D menjadi dasar terapi, dan dokter dapat memberikan obat tambahan sesuai tingkat risiko. Jenis dan lama terapi ditentukan dokter. Terapi hormon, kata dr. Putu, tidak dianjurkan sebagai pengobatan rutin hanya untuk osteoporosis dan perlu dikonsultasikan manfaat serta risikonya.
RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak masyarakat memulai dari kebiasaan sederhana, dan berkonsultasi ke dokter bila termasuk kelompok berisiko. (humas_rsud)
“Pantau terus webiste RSUD dr. H. Jusuf SK Provinsi Kalimantan Utara.”




