Rayakan 9 Tahun Kemitraan, ASP Perkenalkan Teknologi Sterilisasi Terbaru di RSUD dr. H. Jusuf SK

Rayakan 9 Tahun Kemitraan, ASP Perkenalkan Teknologi Sterilisasi Terbaru di RSUD dr. H. Jusuf SK

TARAKAN – Acara Sterradversary dan Refreshment Training digelar di RSUD dr. H. Jusuf SK, (12/10/2026), bertempat di Ruang Rapat Direktur. Kegiatan yang diselenggarakan PT Jasaraya Tama Jaya Buana bersama Advanced Sterilization Products (ASP) ini merayakan sembilan tahun kemitraan dengan RSUD dr. H. Jusuf SK, khususnya pada Instalasi Central Sterile Supply Department (CSSD), sekaligus memperkenalkan teknologi sterilisasi terbaru dari ASP.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Pelayanan Penunjang RSUD dr. H. Jusuf SK, drg. Zeddin Ronald ST Shophiant, yang mewakili direktur rumah sakit dalam menerima pihak penyelenggara.

Sejak 2017, RSUD dr. H. Jusuf SK berkolaborasi dengan ASP melalui penggunaan STERRAD™ 100S untuk mendukung layanan sterilisasi alat kesehatan di Instalasi CSSD. STERRAD merupakan sistem sterilisasi suhu rendah yang menggunakan teknologi plasma gas hidrogen peroksida untuk mensterilkan berbagai jenis alat medis dengan cepat dan aman. Sistem ini mampu mensterilkan endoskop kaku, kamera, kabel cahaya, serta instrumen bedah mikro dan bedah umum, dengan produk sampingan berupa uap air dan oksigen sehingga tidak meninggalkan residu beracun pada instrumen.

Teknologi sterilisasi suhu rendah ini penting karena banyak peralatan medis modern tidak tahan panas tinggi, sehingga tidak dapat disterilkan dengan metode uap panas konvensional. Sterilisasi yang andal di CSSD menjadi bagian penting dalam mencegah infeksi terkait pelayanan kesehatan dan menjaga keselamatan pasien.

Selain perayaan kemitraan, kegiatan ini diisi dengan refreshment training bagi petugas, dengan fasilitator dari ASP, Ibu Ita Novita. Dalam kesempatan ini, ASP juga memaparkan teknologi terbaru yang dapat mendukung pelayanan sterilisasi di rumah sakit.

Dalam presentasinya, ASP menyebut telah memiliki lebih dari 23.000 sistem terpasang di seluruh dunia, dengan 170 sistem terpasang di Indonesia. ASP juga memaparkan bahwa sistemnya telah mendapat pengesahan petunjuk penggunaan (IFU) untuk lebih dari 24.000 instrumen dari produsen alat kesehatan, serta memenuhi standar ISO dan norma EN.

Melalui kemitraan yang telah terjalin sembilan tahun ini, RSUD dr. H. Jusuf SK berharap kerja sama dengan ASP terus berlanjut dan semakin memperkuat mutu layanan sterilisasi di Instalasi CSSD, sehingga seluruh pelayanan kepada pasien dapat berjalan maksimal, aman, dan sesuai standar. (humas_rsud)

(more…)

Meriahkan HUT Kaltara ke-14, RSUD dr. H. Jusuf SK Layani Pemeriksaan Kesehatan dan Donor Darah

Meriahkan HUT Kaltara ke-14, RSUD dr. H. Jusuf SK Layani Pemeriksaan Kesehatan dan Donor Darah

TARAKAN – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Kalimantan Utara ke-14, RSUD dr. H. Jusuf SK turut berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (13/10/2026). Kegiatan berlangsung di Kantor Badan Penghubung Kaltara di Kota Tarakan.

Rangkaian kegiatan meliputi senam bersama, pemeriksaan kesehatan, dan donor darah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kebersamaan, mempererat silaturahmi, serta mendorong kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat dan kepedulian sosial di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Peserta berasal dari sejumlah perangkat daerah (OPD), instansi, dan sekolah yang diundang, dengan perwakilan masing-masing mengenakan pakaian olahraga.

Acara dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, S.E., M.Si., yang juga menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang pembangunan jalan dan infrastruktur fisik. Menurutnya, pembangunan yang utuh juga harus tercermin dari peningkatan kualitas pelayanan publik, karena pelayanan publik adalah wujud kehadiran pemerintah yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di antara berbagai sektor pelayanan publik, Wakil Gubernur menempatkan bidang kesehatan sebagai perhatian khusus bagi Kalimantan Utara. Infrastruktur yang baik, kata beliau, akan semakin bermakna bila diiringi pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mudah dijangkau masyarakat.

“Pembangunan itu bukan hanya soal jalan dan infrastruktur, tetapi juga bagaimana kita meningkatkan kualitas pelayanan publik, terutama di bidang kesehatan,” ujar Wakil Gubernur.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat kegiatan hari itu, yakni mengajak aparatur dan masyarakat untuk hidup sehat serta saling peduli, sekaligus mengingatkan seluruh penyelenggara layanan, termasuk rumah sakit, bahwa mutu pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dari arah pembangunan Kalimantan Utara.

Sesuai susunan acara, setelah senam bersama, RSUD dr. H. Jusuf SK bertugas melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan donor darah yang ditangani langsung oleh Tim Unit Pengelolaan Darah RSUD dr. H. Jusuf SK.

Partisipasi ini menjadi bentuk dukungan rumah sakit terhadap peringatan HUT Kaltara sekaligus wujud kepedulian terhadap kesehatan aparatur dan masyarakat. Pemeriksaan kesehatan berkala membantu mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini, sementara donor darah membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien yang membutuhkan.

RSUD dr. H. Jusuf SK berharap rangkaian kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat hidup sehat dan kepedulian sosial, serta menjadi pengingat bagi rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kalimantan Utara. (humas_rsud)

(more…)

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, RSUD Jusuf SK Ajak Masyarakat Saling Mendengarkan

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, RSUD Jusuf SK Ajak Masyarakat Saling Mendengarkan

TARAKAN – Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day setiap 10 Oktober menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental sekaligus memberi ruang bagi mereka yang memiliki pengalaman hidup dengan gangguan kesehatan jiwa.

Pada 2026, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia mengusung tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”, yang bermakna mendengarkan pengalaman nyata untuk menghadirkan perubahan nyata.

Tema tersebut menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman orang-orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental serta melibatkan suara mereka dalam pembentukan kebijakan, layanan dukungan, dan praktik di lingkungan kerja.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pertama kali diperingati pada 1992 atas prakarsa World Federation for Mental Health (WFMH).

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada September 2025 menunjukkan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi dua kondisi yang paling umum, dengan dampak besar terhadap kehidupan sosial dan perekonomian.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau diperkirakan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang. Beban depresi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut hanya 12,7 persen penderita depresi yang menerima pengobatan. Artinya, sebagian besar penderita belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Sementara itu, Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan sekitar 34,9 persen remaja berusia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Untuk memperluas akses layanan, Kemenkes terus memperkuat pelayanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Sebanyak 6.549 puskesmas atau sekitar 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Rahmawati Nur Indah, Sp.KJ, mengatakan pengalaman setiap orang dalam menghadapi persoalan kesehatan mental dapat berbeda-beda.

Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak harus selalu dimulai dengan langkah besar. Hal terpenting adalah mengenali kebutuhan diri sendiri dan memahami kondisi yang sedang dihadapi.

Menurutnya, pengalaman hidup seseorang merupakan sumber pengetahuan penting untuk membangun dukungan dan layanan kesehatan mental yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi persoalan emosional.

Berbicara memang dapat membantu, tetapi didengarkan dengan baik juga memberikan dampak besar. Seseorang yang merasa didengarkan akan lebih mudah merasa dipahami, tidak sendirian, dan mampu menghadapi tantangan yang dialaminya.

Tiga Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan Mental

dr. Rahmawati mengajak masyarakat memulai upaya menjaga kesehatan mental melalui tiga kebiasaan sederhana.

Pertama, menjaga pola tidur dengan membiasakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari. Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas yang mengganggu waktu istirahat, termasuk terlalu lama menatap layar ponsel menjelang tidur.

Kedua, tetap aktif bergerak melalui kegiatan ringan yang dilakukan secara rutin, seperti berjalan kaki, peregangan, atau yoga.

Ketiga, memberikan waktu jeda ketika mulai merasa lelah, kewalahan, atau menghadapi terlalu banyak tekanan.

Selain menjaga kesehatan diri sendiri, masyarakat juga dapat membantu orang terdekat yang sedang menghadapi persoalan mental dengan memberikan dukungan yang tepat.

dr. Rahmawati menyarankan agar masyarakat memilih waktu dan tempat yang nyaman untuk berbicara, kemudian mendengarkan tanpa menghakimi.

Biarkan orang tersebut bercerita sesuai dengan kenyamanannya. Ajukan pertanyaan terbuka, hindari asumsi atau membandingkan masalahnya dengan pengalaman orang lain, serta jangan terburu-buru memberikan solusi. Mengakui perasaan seseorang dapat membuatnya merasa dipahami dan dihargai.

“Terkadang merasa didengarkan jauh lebih ampuh daripada nasihat,” jelasnya. Setelah mendengarkan, masyarakat dapat membantu orang tersebut memikirkan langkah berikutnya dengan mengajukan pertanyaan, seperti, “Menurut Anda, apa yang akan membantu saat ini?”

Kenali Tanda Stres dan Jangan Ragu Mencari Bantuan

Lebih lanjut, dr. Rahmawati menjelaskan bahwa stres merupakan respons fisik dan emosional ketika seseorang menghadapi tekanan atau perubahan yang membutuhkan penyesuaian diri. Apabila tidak dikelola dengan baik, stres dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan memengaruhi perilaku seseorang.

Dampaknya dapat berupa keengganan berinteraksi dengan orang lain, perubahan pola makan, kesulitan mengendalikan amarah, hingga penggunaan alkohol, obat-obatan, atau rokok secara berlebihan.

Sejumlah tanda yang perlu diwaspadai antara lain perasaan sedih, cemas, atau mudah marah secara berlebihan; kesulitan berkonsentrasi; merasa kesepian atau tidak berharga; gangguan tidur yang menetap; serta kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, masyarakat disarankan segera mencari bantuan profesional.

Untuk membantu mengelola stres, dr. Rahmawati menyarankan masyarakat mengenali penyebab dan menentukan prioritas, meluangkan waktu untuk beristirahat, melakukan relaksasi, rutin beraktivitas fisik, tidur cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Masyarakat juga dapat bercerita kepada orang yang dipercaya, menekuni hobi yang bermanfaat, mengembangkan pola pikir positif, memperkuat kehidupan spiritual sesuai keyakinan, dan menghindari cara-cara pelarian yang membahayakan kesehatan.

Jika stres menetap atau semakin mengganggu aktivitas, konsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikiater atau psikolog klinis, menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.

“Dengarkan tanpa menghakimi, pahami tanpa berasumsi, dukung tanpa membatasi,” pesan dr. Rahmawati.

Melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak masyarakat Kalimantan Utara untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jiwa, membangun kebiasaan saling mendengarkan, serta tidak ragu mencari pertolongan ketika dibutuhkan.

Setiap pengalaman berharga untuk didengarkan. Setiap orang juga berhak mendapatkan dukungan dan akses terhadap layanan kesehatan jiwa yang sesuai kebutuhannya. (humas_rsud)

(more…)

Lantik Dewan Pengawas RSUD Jusuf SK, Gubernur Kaltara Tekankan Transparansi dan Mutu Pelayanan

Lantik Dewan Pengawas RSUD Jusuf SK, Gubernur Kaltara Tekankan Transparansi dan Mutu Pelayanan

TARAKAN – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal Arifin Paliwang melantik lima anggota Dewan Pengawas RSUD dr. H. Jusuf SK Provinsi Kaltara periode 2025–2030, Senin (12/10/2026). Pelantikan berlangsung di Hall A RSUD dr. H. Jusuf SK, Tarakan.

Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan dan mendorong peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kaltara.

Lima pejabat yang dilantik yakni Dr. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua, FRSPH, FIHFAA sebagai ketua; Adv. Mardianto, S.H., M.H., GRCO, CRPP, CLA; Nurdin, S.E.; Heriyana, S.K.M., M.Kes.; serta Fatmainnah, S.Ak., M.M., CRMO, CRA, CRMP, CRPP sebagai anggota.

Dalam sambutannya, Zainal menegaskan bahwa Dewan Pengawas tidak boleh sekadar menjalankan fungsi administratif. Mereka harus berperan aktif sebagai mitra strategis direksi untuk memastikan rumah sakit dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kepentingan pasien.

Menurutnya, RSUD merupakan wajah pelayanan publik pemerintah di sektor kesehatan. Karena itu, masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang cepat, nyaman, dan berkualitas.

“Dewan Pengawas harus mampu memberikan masukan, evaluasi, dan solusi atas berbagai kendala operasional maupun manajerial,” tegas Zainal.

Ia juga meminta Dewan Pengawas mengawal tata kelola keuangan rumah sakit agar berjalan transparan, akuntabel, dan efisien. Namun, efisiensi anggaran tidak boleh mengorbankan mutu pelayanan kesehatan.

Dalam kesempatan itu, Gubernur turut mengingatkan jajaran direksi, manajemen, dan tenaga medis agar memperkuat sinergi dengan Dewan Pengawas. Pengawasan, kata dia, harus menjadi dorongan untuk memperbaiki kinerja dan melahirkan inovasi, bukan sekadar formalitas.

Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi peningkatan disiplin, perbaikan sistem antrean, ketersediaan obat, serta kecukupan fasilitas pelayanan. Selain itu, seluruh tenaga kesehatan diminta memberikan pelayanan yang ramah dan manusiawi kepada setiap pasien.

Zainal menilai, fasilitas dan peralatan medis yang memadai harus diimbangi dengan empati serta integritas para petugas.

“Sebaik-baiknya infrastruktur dan peralatan medis yang kita miliki, hal itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan sikap empati, integritas, dan ketulusan hati dari para pelayannya,” pesannya.

Dengan dilantiknya Dewan Pengawas periode 2025–2030, tantangan berikutnya adalah memastikan fungsi pengawasan menghasilkan perbaikan nyata dalam pengelolaan rumah sakit.

Penguatan tata kelola, evaluasi kinerja, dan peningkatan kualitas pelayanan menjadi hal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap RSUD dr. H. Jusuf SK.

Gubernur berharap Dewan Pengawas bersama direksi dan seluruh jajaran rumah sakit mampu meletakkan fondasi transformasi pelayanan kesehatan yang lebih profesional, mandiri, dan berdaya saing.

Pada akhirnya, keberhasilan pengawasan tidak hanya diukur dari administrasi dan laporan, tetapi juga dari perbaikan layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Pasien harus menjadi prioritas utama, dengan pelayanan yang berkualitas, transparan, dan sepenuh hati. (humas_rsud)

(more…)

Hari Penglihatan Sedunia 2026, Dokter Mata RSUD dr. H. Jusuf SK Bagikan Tips Jaga Mata Anak hingga Dewasa

Hari Penglihatan Sedunia 2026, Dokter Mata RSUD dr. H. Jusuf SK Bagikan Tips Jaga Mata Anak hingga Dewasa

TARAKAN – Momen Hari Penglihatan Sedunia 2026 menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mata, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Dokter spesialis mata RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Yurike Tiurma Persaulin, Sp.M, mengajak masyarakat Kalimantan Utara tidak mengabaikan kesehatan mata dan melakukan pemeriksaan apabila mulai muncul gangguan penglihatan.

Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day diperingati setiap Kamis kedua bulan Oktober. Tahun ini, peringatan tersebut jatuh pada Kamis (8/10/2026) dengan mengusung tema Love Your Eyes.

Tema tersebut menjadi bagian dari kampanye global yang digagas International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) untuk mengajak masyarakat memprioritaskan kesehatan mata.

Menurut dr. Yurike, menjaga kesehatan mata sebaiknya dilakukan sejak usia anak-anak.

Pemeriksaan Mata Anak Jangan Diabaikan

Dr. Yurike mengatakan, anak usia prasekolah perlu mendapatkan pemeriksaan mata secara rutin.

Hal ini penting karena sejumlah gangguan penglihatan pada anak tidak selalu dapat dikenali sejak awal.

“Anak usia prasekolah sebaiknya diperiksakan matanya secara teratur. Banyak gangguan penglihatan pada anak tidak disadari karena anak belum bisa mengeluhkannya, jadi orang tua perlu proaktif,” ujar dr. Yurike.

Menurutnya, deteksi dini memungkinkan gangguan penglihatan mendapatkan penanganan lebih cepat sehingga tidak mengganggu proses belajar dan tumbuh kembang anak.

“Semakin dini terdeteksi, semakin baik hasil penanganannya,” lanjutnya.

Selain pemeriksaan rutin, orang tua juga diminta mengatur penggunaan gadget pada anak.

Anak sebaiknya mendapatkan jeda saat menggunakan perangkat digital dan tetap memiliki waktu untuk beraktivitas di luar ruangan.

“Penggunaan gadget pada anak perlu dibatasi dan diberi jeda istirahat. Dampingi anak saat menggunakannya, dan imbangi dengan aktivitas di luar ruangan serta makanan bergizi,” katanya.

Kenali Empat Gangguan Penglihatan yang Sering Ditemui

Sementara pada orang dewasa, sejumlah gangguan penglihatan yang sering ditemukan di antaranya miopia, hipermetropia, astigmatisma dan presbiopia.

Miopia atau rabun jauh membuat objek yang berada jauh terlihat buram, sementara objek dekat masih dapat terlihat lebih jelas.

Sebaliknya, hipermetropia atau rabun dekat membuat seseorang mengalami kesulitan melihat objek yang dekat.

Kemudian astigmatisma atau mata silinder dapat menyebabkan penglihatan terlihat kabur atau berbayang pada berbagai jarak.

Sedangkan presbiopia atau mata tua merupakan kondisi ketika kemampuan melihat objek dekat menurun seiring bertambahnya usia dan umumnya mulai dirasakan setelah usia 40 tahun.

“Keempat kondisi ini yang paling sering kami temui di poli mata. Kabar baiknya, semuanya dapat dikoreksi dan ditangani dengan tepat, asalkan pasien tidak menunda pemeriksaan,” kata dr. Yurike.

Sering Menatap Layar? Terapkan Aturan 20-20-20

Bagi masyarakat yang banyak menghabiskan waktu di depan komputer maupun gadget, dr. Yurike mengingatkan pentingnya memberikan waktu istirahat bagi mata.

Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah aturan 20-20-20.

Artinya, setiap 20 menit menatap layar, seseorang perlu mengalihkan pandangan selama 20 detik dengan melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter.

“Mata itu perlu istirahat. Kalau bekerja di depan komputer, jangan menatap layar terus-menerus. Terapkan aturan 20-20-20, beri jeda sejenak untuk melihat jauh, supaya mata tidak cepat lelah,” jelasnya.

Selain memberikan jeda, masyarakat juga dianjurkan mengatur waktu penggunaan gadget, mengonsumsi makanan bergizi dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala.

Terutama apabila mulai muncul keluhan seperti penglihatan kabur, mata cepat lelah atau sakit kepala saat membaca maupun menatap layar.

Jangan Tunggu Gangguan Mata Semakin Parah

Melalui momentum Hari Penglihatan Sedunia 2026, RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak masyarakat menjadikan menjaga kesehatan mata sebagai kebiasaan sehari-hari.

Dr. Yurike mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu gangguan penglihatan semakin parah sebelum memeriksakan diri.

“Mari mulai mencintai mata kita dari kebiasaan kecil sehari-hari. Jangan menunggu parah. Kalau ada keluhan pada penglihatan, segera konsultasikan ke dokter mata,” pungkasnya. (humas_rsud)

(more…)

Pemprov Kaltara Komitmen Pertahankan Akreditasi Paripurna RSUD dr. H. Jusuf SK

Pemprov Kaltara Komitmen Pertahankan Akreditasi Paripurna RSUD dr. H. Jusuf SK

TARAKAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) menegaskan komitmennya untuk mempertahankan predikat Akreditasi Paripurna yang telah diraih RSUD dr. H. Jusuf SK.

Komitmen tersebut disampaikan setelah rangkaian Survei Akreditasi Rumah Sakit di RSUD dr. H. Jusuf SK resmi berakhir pada Selasa (29/9/2026).

Survei yang berlangsung selama beberapa hari tersebut dilakukan oleh Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna (LARS DHP). Seluruh rangkaian survei berjalan lancar dan menjadi bagian dari proses evaluasi terhadap mutu pelayanan serta keselamatan pasien di rumah sakit.

Penutupan survei berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 6 RSUD dr. H. Jusuf SK dan dilakukan oleh Plt Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B., Sp.PK.

Mewakili Gubernur Kaltara, Budy menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran RSUD dr. H. Jusuf SK yang telah mempersiapkan proses akreditasi sejak 2025.

“Terima kasih kepada seluruh jajaran yang sudah bekerja keras mempersiapkan akreditasi sejak tahun 2025 hingga sekarang,” ujar dr. Budy.

Menurutnya, proses akreditasi tidak semata-mata menjadi agenda administratif rumah sakit. Lebih dari itu, akreditasi menjadi momentum untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat terus memenuhi standar mutu dan keselamatan pasien.

dr. Budy juga menyampaikan apresiasi kepada tim surveior LARS DHP yang telah memberikan pendampingan sejak tahap bimbingan teknis, simulasi hingga pelaksanaan survei.

Tim surveior dipimpin dr. Raden Gunawan Effendi, Sp.M., S.H., M.M., M.A.R.S., M.H., C.M.C., C.H.C.M., FISQua, bersama dr. Mauritz Silalahi, Sp.P(K)., FISR., M.A.R.S. dan Farisia Madina, S.Kp., M.M., FISQua.

Budy berharap hasil survei nantinya dapat menjadi pijakan bagi RSUD dr. H. Jusuf SK untuk terus mempertahankan predikat Akreditasi Paripurna, sekaligus memperbaiki berbagai aspek pelayanan yang masih perlu diperkuat.

Ia mengatakan, dukungan pemerintah daerah tetap diperlukan, terutama dalam menindaklanjuti catatan dan rekomendasi yang disampaikan tim surveior.

“Bagaimana kita ingin dilayani, seperti itulah kita harus melayani pasien,” kata dr. Budy.

Akreditasi Bukan Sekadar Predikat

Ketua Tim Surveior LARS DHP, dr. Raden Gunawan Effendi, mengapresiasi jajaran RSUD dr. H. Jusuf SK yang telah mengikuti seluruh rangkaian survei dengan baik.

Ia menekankan, keberlanjutan mutu pelayanan rumah sakit membutuhkan sinergi seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah sebagai pemilik rumah sakit, dewan pengawas, manajemen, tenaga kesehatan hingga seluruh civitas hospitalia.

“Semua harus saling mendukung. Pemprov sebagai pemilik rumah sakit juga punya peran penting agar pelayanan kepada pasien dapat berjalan dengan baik,” ujar dr. Raden.

Menurut dr. Raden, predikat Akreditasi Paripurna tidak hanya berkaitan dengan terpenuhinya standar pelayanan medis. Penilaian juga mencakup berbagai aspek penyelenggaraan rumah sakit.

Aspek tersebut antara lain manajemen, keuangan, sumber daya manusia, tenaga medis dan keperawatan, sarana dan prasarana, perizinan, hubungan dengan BPJS dan pihak ketiga, hingga kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, dukungan pemerintah daerah sebagai pemilik rumah sakit tetap dibutuhkan, khususnya ketika rumah sakit membutuhkan penguatan dari sisi SDM, tenaga medis, perawat, sarana dan prasarana maupun kebutuhan penunjang lainnya.

“Ketika rumah sakit sudah mandiri, pemerintah daerah bisa lebih banyak melakukan pengawasan. Tetapi selama masih membutuhkan dukungan, peran pemerintah sebagai pemilik tetap penting,” katanya.

dr. Raden juga mengingatkan agar akreditasi tidak berhenti pada pemenuhan standar dan kelengkapan dokumen. Hasil survei harus menjadi dasar bagi rumah sakit untuk melakukan evaluasi secara berkelanjutan.

Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan harus berjalan seiring dengan inovasi agar rumah sakit mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mengikuti perkembangan pelayanan kesehatan.

“Pelayanan harus sesuai standar dan aturan. Setelah itu, terus lakukan inovasi agar rumah sakit tidak tertinggal,” ujarnya.

Setelah seluruh rangkaian survei berakhir, RSUD dr. H. Jusuf SK selanjutnya menunggu hasil penilaian dari LARS DHP.

Pemprov Kaltara bersama manajemen rumah sakit menyatakan akan menindaklanjuti setiap rekomendasi perbaikan yang diberikan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga mutu pelayanan sekaligus memastikan keselamatan pasien tetap menjadi bagian utama dalam penyelenggaraan layanan kesehatan di RSUD dr. H. Jusuf SK. (humas_rsud)

(more…)

Akreditasi RSUD dr. H. Jusuf SK, Wagub Kaltara Tekankan Mutu dan Keselamatan Pasien

Akreditasi RSUD dr. H. Jusuf SK, Wagub Kaltara Tekankan Mutu dan Keselamatan Pasien

TARAKAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dan memastikan keselamatan pasien di RSUD dr. H. Jusuf SK.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan Wakil Gubernur Kaltara Ingkong Ala, S.E., M.Si., saat membuka Survei Akreditasi RSUD dr. H. Jusuf SK di Ruang Pertemuan Lantai 6 rumah sakit tersebut, Senin (28/9/2026).

Mewakili Gubernur Kaltara, Ingkong menyebut survei akreditasi bukan sekadar proses administratif untuk mempertahankan predikat rumah sakit, melainkan menjadi momentum mengevaluasi sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan.

“Rumah sakit harus memberikan pelayanan yang bermutu, aman, dan mengutamakan keselamatan pasien,” tegas Ingkong.

Menurutnya, rumah sakit memiliki peran strategis karena tidak hanya menjadi tempat masyarakat mendapatkan pengobatan, tetapi juga menjadi salah satu ujung tombak dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Karena itu, standar pelayanan harus terus ditingkatkan. Mulai dari tata kelola rumah sakit, kompetensi tenaga kesehatan, fasilitas penunjang, hingga penerapan sistem keselamatan pasien harus menjadi perhatian berkelanjutan.

Ingkong menegaskan, akreditasi tidak boleh dimaknai hanya sebagai kewajiban untuk mendapatkan atau mempertahankan sertifikat.

Lebih dari itu, proses akreditasi harus menjadi bagian dari komitmen profesional dan moral seluruh jajaran rumah sakit dalam memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan sesuai standar.

Pemprov Kaltara, kata Ingkong, terus mendorong fasilitas pelayanan kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta, untuk meningkatkan kualitas pelayanan seiring semakin kompleksnya kebutuhan masyarakat.
Ia juga meminta proses survei dilaksanakan secara terbuka dan objektif.

Kepada tim surveior, Ingkong menyampaikan apresiasi sekaligus berharap evaluasi yang dilakukan dapat menghasilkan masukan konstruktif bagi pengembangan RSUD dr. H. Jusuf SK.
“Silakan berikan masukan dan arahan yang membangun. Itu penting untuk perbaikan pelayanan kami ke depan,” ujarnya.

Sementara kepada direksi dan seluruh civitas hospitalia RSUD dr. H. Jusuf SK, ia meminta agar seluruh proses survei diikuti secara kooperatif dan transparan.

“Tunjukkan komitmen yang selama ini sudah dibangun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sepenuh hati,” tegasnya.

Survei akreditasi ini juga menjadi momentum bagi Pemprov Kaltara untuk mempertahankan predikat akreditasi paripurna yang telah diraih RSUD dr. H. Jusuf SK.

Dalam rangkaian survei, Ingkong turut menjalani sesi wawancara dengan tim surveior dari Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna (LARS DHP).

Wawancara tersebut menjadi bagian dari proses penilaian untuk melihat dukungan pemerintah daerah terhadap berbagai aspek penyelenggaraan rumah sakit, termasuk peningkatan mutu, keselamatan pasien, regulasi, pembiayaan, hingga pengembangan sumber daya manusia kesehatan.

Ingkong mengatakan status paripurna yang telah dimiliki RSUD dr. H. Jusuf SK harus menjadi motivasi untuk terus melakukan pembenahan.

“Kami berharap melalui akreditasi ini kelas dan seluruh pelayanan rumah sakit terus meningkat,” katanya.

Sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama di Kaltara, RSUD dr. H. Jusuf SK dinilai memiliki posisi strategis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dari berbagai wilayah.

Karena itu, evaluasi berkala melalui proses akreditasi dinilai penting untuk memastikan standar pelayanan terus dijaga dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Ingkong mengakui proses penilaian akreditasi rumah sakit saat ini semakin ketat. Pemprov Kaltara bersama manajemen rumah sakit pun berupaya memberikan informasi secara terbuka mengenai kebijakan, program, dan berbagai pembenahan yang telah dilakukan.

“Penilaiannya sekarang semakin ketat. Kami berusaha memberikan penjelasan sesuai kondisi dan apa yang sudah kami lakukan. Mudah-mudahan predikat paripurna bisa tetap dipertahankan,” ujarnya.

Selain aspek tata kelola dan keselamatan pasien, penguatan sumber daya manusia kesehatan menjadi salah satu perhatian Pemprov Kaltara.

Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, termasuk melalui program pendidikan dokter. Sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang sedang menjalani pendidikan diharapkan nantinya kembali ke Kaltara untuk memperkuat layanan kesehatan.

“Dokter dan perawat yang sedang kita sekolahkan diharapkan bisa kembali. Mudah-mudahan kebutuhan dokter spesialis maupun subspesialis di Kaltara nantinya dapat terpenuhi,” ujar Ingkong.

Survei akreditasi RSUD dr. H. Jusuf SK dipimpin Ketua Tim Surveyor LARS DHP dr. Raden Gunawan Effendi, Sp.M., S.H., M.M., M.A.R.S., M.H., C.M.C., C.H.C.M., FISQua, bersama anggota dr. Mauritz Silalahi, Sp.P(K)., FISR., M.A.R.S. dan Farisia Madina, S.Kp., M.M., FISQua.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kaltara Dr. Usman, S.K.M., M.Kes., Plt. Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK dr. Budy Azis B., Sp.PK, serta jajaran direksi dan civitas hospitalia RSUD dr. H. Jusuf SK.

Melalui proses akreditasi tersebut, Pemprov Kaltara berharap RSUD dr. H. Jusuf SK tidak berhenti pada upaya mempertahankan predikat paripurna.

Lebih jauh, rumah sakit diharapkan terus memperkuat mutu layanan, keselamatan pasien, kompetensi tenaga kesehatan, tata kelola, serta fasilitas pelayanan, sehingga mampu menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Kaltara secara berkelanjutan. (humas_rsud)

(more…)

Mulai dari Bertanya Kabar, RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa

Mulai dari Bertanya Kabar, RSUD dr. H. Jusuf SK Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa

TARAKAN – Kepedulian terhadap kesehatan jiwa tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Terkadang, cukup dengan satu pertanyaan sederhana: “Apa kabar?”

Pesan itu disampaikan RSUD dr. H. Jusuf SK dalam momentum Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day) yang diperingati setiap 10 September.

Pada 2026, kampanye tersebut mengusung tema “Changing the Narrative on Suicide” atau Mengubah Narasi tentang Bunuh Diri, dengan ajakan “Start the Conversation” atau Mulailah Percakapan.

Kampanye ini mendorong masyarakat meninggalkan kebisuan, stigma, dan kesalahpahaman menuju keterbukaan, empati, serta dukungan bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan berat.

Data WHO dalam laporan Suicide worldwide in 2021: global health estimates mencatat sekitar 727.000 orang meninggal akibat bunuh diri sepanjang 2021. Bunuh diri juga tercatat sebagai salah satu penyebab kematian utama pada kelompok usia 15–29 tahun.

WHO menyebut persoalan bunuh diri bersifat multifaktor, yang dapat dipengaruhi faktor sosial, budaya, biologis, psikologis hingga lingkungan. Kondisi krisis juga dapat membuat seseorang lebih rentan, termasuk ketika menghadapi persoalan keuangan, konflik hubungan, penyakit kronis maupun nyeri berkepanjangan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Rahmawati Nur Indah, Sp.KJ, mengingatkan bahwa kesehatan jiwa memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Menurutnya, keluarga menjadi pihak yang paling dekat dan berpeluang melihat perubahan perilaku seseorang.

“Keluarga adalah lapis pertama yang paling mungkin melihat perubahan. Bila ada orang terdekat yang mulai menarik diri, kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai, atau mengalami perubahan pola tidur dan makan dalam waktu lama, jangan diabaikan. Temani, dengarkan, dan bantu mereka bertemu tenaga profesional,” jelas dr. Indah.

Karena itu, masyarakat diajak tidak takut membuka percakapan dengan orang terdekat yang sedang menghadapi tekanan.

Menanyakan kabar dengan tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, serta menemani seseorang mendapatkan bantuan profesional merupakan langkah sederhana yang dinilai dapat memberikan dampak besar.

“Kita sering takut bertanya karena khawatir salah bicara. Padahal, menanyakan kabar dengan tulus dan mendengarkan tanpa menghakimi itu justru membuka jalan bagi seseorang untuk bercerita. Percakapan sederhana bisa menjadi langkah awal yang menyelamatkan,” kata dr. Indah.

RSUD dr. H. Jusuf SK pun mengimbau masyarakat Kalimantan Utara agar tidak ragu memeriksakan kondisi kesehatan jiwa, baik untuk diri sendiri maupun ketika mendampingi keluarga dan kerabat. Layanan kesehatan jiwa tersedia di RSUD dr. H. Jusuf SK dan ditangani oleh dokter spesialis Kedokteran Jiwa. (humas_rsud)

(more…)

Ombudsman Kaltara Nilai Pelayanan Publik di RSUD dr. H. Jusuf SK

Ombudsman Kaltara Nilai Pelayanan Publik di RSUD dr. H. Jusuf SK

TARAKAN – Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia Provinsi Kalimantan Utara melakukan penilaian penyelenggaraan pelayanan publik di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Penilaian Maladministrasi Penyelenggaraan Pelayanan Publik Tahun 2026 yang dilakukan Ombudsman Kaltara terhadap sejumlah unit pelayanan publik yang menjadi lokus penilaian.

Kedatangan tim Ombudsman Kaltara diterima langsung oleh Plt Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B., Sp.PK., MH., bersama jajaran manajemen dan unit terkait di lingkungan rumah sakit.

Dalam penilaian tersebut, tim Ombudsman melakukan survei lapangan, pengumpulan informasi, serta verifikasi terhadap sejumlah aspek penyelenggaraan pelayanan publik.

Aspek yang dinilai antara lain kesiapan petugas pelayanan, penanggung jawab dan staf unit pengaduan, dokumen pendukung pelayanan, hingga kondisi sarana dan prasarana yang menunjang pelayanan kepada masyarakat.

RSUD dr. H. Jusuf SK menjadi salah satu unit pelayanan publik yang ditetapkan sebagai lokus penilaian Ombudsman Kaltara tahun 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B.,Sp.PK., MH.,, menyambut baik pelaksanaan penilaian tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya evaluasi sekaligus peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit.

“Kami menyambut baik kegiatan penilaian dari Ombudsman ini. Bagi kami, ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali proses pelayanan yang berjalan di rumah sakit, sekaligus mendapatkan masukan untuk perbaikan ke depan,” ujar dr. Budy.

Ia mengatakan, peningkatan mutu pelayanan tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga bagaimana masyarakat memperoleh informasi, mendapatkan pelayanan, menyampaikan pengaduan, serta memperoleh kepastian dan kemudahan dalam mengakses layanan.

“Kami tentu berharap melalui kegiatan ini ada masukan yang dapat kami tindaklanjuti. Apa yang sudah baik akan terus dipertahankan dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki akan menjadi perhatian bersama,” lanjutnya.

Menurutnya, hasil penilaian Ombudsman diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi rumah sakit dalam memperkuat kualitas penyelenggaraan pelayanan publik.

“Kami ingin memastikan pelayanan yang diberikan tidak hanya memenuhi standar, tetapi juga benar-benar memberikan kemudahan dan kepastian bagi masyarakat. Karena itu, setiap masukan dari Ombudsman akan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan di RSUD dr. H. Jusuf SK,” pungkas dr. Budy. (humas_rsud)

(more…)

Dewas Soroti Pengawasan Anggaran dan Mutu Layanan RSUD dr. H. Jusuf SK, Monitoring Tak Boleh Berhenti di Laporan

Dewas Soroti Pengawasan Anggaran dan Mutu Layanan RSUD dr. H. Jusuf SK, Monitoring Tak Boleh Berhenti di Laporan

TARAKAN – Pengelolaan anggaran dan peningkatan mutu pelayanan menjadi perhatian serius RSUD dr. H. Jusuf SK. Bersama Dewan Pengawas (Dewas), manajemen rumah sakit membedah sejumlah agenda strategis, mulai dari persiapan survei akreditasi hingga pergeseran anggaran yang tengah berjalan.

Rapat koordinasi tersebut diikuti jajaran manajemen dan pejabat struktural RSUD dr. H. Jusuf SK. Pembahasan tidak hanya berkutat pada penyesuaian anggaran, tetapi juga bagaimana setiap kebijakan dapat berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar pelayanan, pemeliharaan fasilitas, serta penguatan manajemen risiko rumah sakit.

Pergeseran anggaran diarahkan untuk memastikan kebutuhan yang dinilai prioritas tetap terpenuhi. Di saat yang sama, Dewan Pengawas memastikan proses tersebut tetap berada dalam koridor visi dan misi RSUD dr. H. Jusuf SK.

Plt. Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B, Sp.PK., M.H., mengatakan koordinasi dengan Dewan Pengawas menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan rumah sakit.

“Rapat koordinasi ini penting untuk memastikan setiap langkah yang kita ambil, baik dalam persiapan akreditasi maupun pergeseran anggaran, benar-benar menjawab kebutuhan dasar pelayanan dan pemeliharaan, serta tetap selaras dengan visi dan misi rumah sakit,” ujar dr. Budy.

Menurutnya, pengawasan yang dilakukan Dewas diharapkan tidak menjadi penghambat bagi manajemen, tetapi justru menjadi bagian dari upaya memastikan setiap kebijakan diambil secara tepat dan terukur.

“Kami ingin membangun kerja yang konstruktif bersama Dewan Pengawas, karena pengawalan dari Dewas sangat membantu kami dalam menjaga arah kebijakan tetap tepat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas RSUD dr. H. Jusuf SK, H. Denny Harianto, S.E., M.M., menegaskan posisi Dewas sebagai pengawal kebijakan, bukan mengambil alih kewenangan manajemen.

“Kami ingin membangun hubungan dengan manajemen RSUD dr. H. Jusuf SK berdasarkan keterbukaan. Dewan Pengawas di sini bukan untuk mengambil alih peran manajemen, melainkan mengawal agar setiap kebijakan, termasuk pergeseran anggaran, tetap selaras dengan visi dan misi rumah sakit,” ujar Denny.

Namun, Denny mengingatkan satu hal penting: pengawasan tidak boleh berhenti sebatas monitoring.

Ia menegaskan, setiap temuan harus memiliki tindak lanjut yang jelas agar proses pengawasan menghasilkan perubahan nyata di lingkungan rumah sakit.

“Monitoring saja tidak cukup. Setelah ada monitoring, harus ada evaluasi dan tindak lanjut yang jelas, agar setiap catatan atau temuan benar-benar ditindaklanjuti, bukan sekadar menjadi laporan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menempatkan proses evaluasi dan tindak lanjut sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas tata kelola rumah sakit.

Selain persoalan anggaran dan akreditasi, Dewan Pengawas juga mendorong RSUD dr. H. Jusuf SK memperluas penerapan digitalisasi pelayanan.

Digitalisasi diharapkan tidak sekadar mengubah sistem administrasi menjadi berbasis teknologi, tetapi benar-benar memberikan dampak yang dirasakan pasien. Mulai dari mempercepat alur pelayanan, memangkas waktu tunggu, hingga meningkatkan kualitas dan efisiensi layanan.

“Ke depan, kami mendorong RSUD dr. H. Jusuf SK dapat menerapkan digitalisasi pelayanan secara lebih luas, yang fungsinya lebih kepada percepatan pelayanan, memangkas jam tunggu, dan meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat,” kata Denny.

Ia juga memastikan Dewan Pengawas terbuka terhadap konsultasi dari manajemen terkait kebijakan strategis rumah sakit.

“Dewan Pengawas terbuka jika manajemen RSUD dr. H. Jusuf SK ingin berkonsultasi terkait kebijakan apa pun. Kami siap berkolaborasi, karena Dewas adalah bagian dari tim rumah sakit yang sama-sama ingin membawa RSUD dr. H. Jusuf SK menjadi lebih baik,” ujarnya.

Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara ini. Dengan pengawasan yang lebih konstruktif, evaluasi yang ditindaklanjuti, serta dorongan digitalisasi pelayanan, kebijakan rumah sakit diarahkan tidak berhenti pada urusan administratif, tetapi bermuara pada peningkatan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat Kalimantan Utara. (humas_rsud)

(more…)