Benjolan di Payudara Tak Selalu Kanker, tapi Jangan Ditunda: Dokter Bedah Onkologi RSUD dr. H. Jusuf SK Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

TARAKAN – Oktober diperingati sebagai Bulan Kepedulian Kanker Payudara Sedunia (Breast Cancer Awareness Month). Momentum ini menjadi pengingat bagi perempuan, dan juga keluarga, untuk mengenali kanker payudara sejak dini, sebab penyakit yang paling banyak menyerang perempuan ini jauh lebih mudah ditangani bila ditemukan lebih awal.

Menyambut peringatan ini, dr. Andhini Palinrungi, M.Kes., Sp.B., Subsp. Onk(K), dokter spesialis bedah subspesialis onkologi konsultan RSUD dr. H. Jusuf SK, mengajak masyarakat Kalimantan Utara untuk tidak menunda memeriksakan diri.

WHO memperkirakan pada 2024 terdapat 2,4 juta perempuan didiagnosis kanker payudara dan 694.000 meninggal dunia, dan kanker ini menjadi kanker terbanyak pada perempuan di 164 dari 186 negara. Di Indonesia, tercatat lebih dari 66.000 kasus baru pada 2022, atau sekitar 30,1 persen dari seluruh kasus baru kanker, dengan angka kematian sekitar 22.000 jiwa per tahun.

Yang menjadi perhatian, lebih dari 70 persen pasien di Indonesia pertama kali datang ke fasilitas kesehatan pada stadium III atau IV, ketika pengobatan sudah lebih kompleks dan peluang kesembuhan lebih kecil. Kemenkes juga mencatat dari 14 juta perempuan yang menjadi sasaran pemeriksaan, baru 4,1 juta yang menjalani pemeriksaan.

Menurut dr. Andhini, kanker payudara tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa faktor risiko. WHO menyebut jenis kelamin perempuan sebagai faktor risiko terkuat, disusul bertambahnya usia, obesitas, konsumsi alkohol yang berbahaya, riwayat keluarga, paparan radiasi, riwayat reproduksi seperti usia pertama kali haid dan usia kehamilan pertama, merokok, serta terapi hormon pascamenopause. Pedoman Kemenkes juga mencatat haid pertama sebelum usia 12 tahun, menopause terlambat, kehamilan pertama di usia 30 tahun atau lebih, penggunaan kontrasepsi hormonal lebih dari 10 tahun, serta kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor yang berkaitan dengan risiko.

Perlu dipahami pula bahwa sekitar 80 persen kanker payudara terjadi pada perempuan tanpa faktor risiko lain selain jenis kelamin dan usia di atas 40 tahun, dan sebagian besar penderita tidak memiliki riwayat keluarga yang diketahui. Artinya, setiap perempuan perlu waspada, bukan hanya yang memiliki faktor risiko.

“Banyak yang mengira kanker payudara hanya dialami mereka yang punya riwayat keluarga. Faktanya, sebagian besar pasien tidak memilikinya. Karena itu, siapa pun perempuan, terutama setelah usia 30 tahun, perlu rutin memeriksa payudaranya,” ujar dr. Andhini.

Tanda yang paling sering ditemukan adalah benjolan atau penebalan di payudara yang sering kali tidak terasa nyeri. Tanda lainnya meliputi perubahan ukuran, bentuk, atau tampilan payudara, kulit yang berlekuk, kemerahan, atau berlubang-lubang, perubahan pada puting atau kulit di sekitarnya, serta keluarnya cairan abnormal atau berdarah dari puting. Pedoman Kemenkes menambahkan puting yang tertarik ke dalam, kulit yang mengerut seperti kulit jeruk, luka yang tidak sembuh, dan benjolan di ketiak.

Sebagian besar benjolan di payudara bukan kanker. Namun, benjolan yang tidak normal tetap perlu diperiksa dokter, meskipun tidak terasa sakit.

“Benjolan yang tidak nyeri justru jangan dianggap aman. Kalau ada benjolan atau perubahan pada payudara yang menetap, segera periksa. Jangan menunggu sakit, dan jangan menunggu sampai membesar,” tegas dr. Andhini.

Langkah pertama adalah deteksi dini. Perempuan sejak usia pubertas hingga menopause dianjurkan melakukan periksa payudara sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan, dan segera ke fasilitas kesehatan bila teraba benjolan yang menetap setelah haid selesai. SADARI dilakukan dengan mengamati payudara di depan cermin pada beberapa posisi lengan, lalu meraba setiap payudara secara sistematis dan menekan puting untuk memeriksa ada tidaknya cairan. Kabar baiknya, kanker payudara stadium dini sangat mungkin disembuhkan.

“Kalau ditemukan dini, peluang sembuhnya jauh lebih baik dan pengobatannya lebih ringan. Jadi jangan takut memeriksakan diri. Ketakutan justru sering membuat pasien datang terlambat. Dan bila sudah didiagnosis, jalani pengobatan sampai selesai bersama tim dokter,” pesan dr. Andhini.

Melalui peringatan Bulan Kepedulian Kanker Payudara Sedunia 2026, RSUD dr. H. Jusuf SK mengajak seluruh perempuan di Kalimantan Utara untuk mengenali tubuhnya sendiri, melakukan SADARI setiap bulan, dan segera memeriksakan diri bila menemukan perubahan pada payudara.(humas_rsud)

“Pantau terus webiste RSUD dr. H. Jusuf SK Provinsi Kalimantan Utara.”