Meriahkan HUT RI ke-81, RSUD dr. H. Jusuf SK Umumkan Juara Lomba Konten Video dan Foto Terkreatif dan Inspiratif

Meriahkan HUT RI ke-81, RSUD dr. H. Jusuf SK Umumkan Juara Lomba Konten Video dan Foto Terkreatif dan Inspiratif

TARAKAN – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, RSUD dr. H. Jusuf SK menggelar Lomba Konten Video dan Foto bagi seluruh karyawan dan karyawati.

Pengumuman lomba disampaikan dalam apel pagi yang digelar di Lantai 6, Hall A RSUD dr. H. Jusuf SK, Senin (31/8/2026). Lomba ini terbuka bagi seluruh unit dan ruangan pelayanan di lingkungan RSUD dr. H. Jusuf SK.

Peserta lomba dapat berasal dari berbagai unsur, mulai dari tenaga medis, tenaga kesehatan, tenaga penunjang hingga staf nonmedis. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para karyawan untuk menuangkan kreativitas sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan nasionalisme di lingkungan rumah sakit.

Dalam menentukan pemenang, panitia menetapkan lima aspek penilaian. Aspek pertama yakni kreativitas dan tema kemerdekaan dengan bobot 30 persen. Penilaian meliputi keterkaitan konten dengan semangat kemerdekaan, penggunaan unsur merah putih, keunikan ide hingga orisinalitas karya. Peserta juga didorong menghadirkan konsep kreatif yang mampu menggambarkan suasana kemerdekaan di lingkungan kerja.

Aspek kedua adalah keterlibatan seluruh tim dengan bobot 25 persen. Kekompakan dan partisipasi anggota ruangan menjadi bagian penting dalam penilaian, baik dokter, tenaga kesehatan maupun petugas penunjang.

Selanjutnya, pesan edukasi dan citra rumah sakit memiliki bobot 20 persen. Konten yang dibuat diharapkan tetap memuat pesan kesehatan sekaligus mampu menggambarkan RSUD dr. H. Jusuf SK sebagai rumah sakit yang humanis, ramah dan profesional.

Aspek keempat adalah kualitas video dan dekorasi dengan bobot 15 persen. Penilaian mencakup kerapian dan kesesuaian dekorasi, kualitas gambar, pencahayaan, suara, proses editing hingga durasi video. Panitia menyarankan peserta membuat video dengan durasi sekitar satu hingga dua menit.

Sementara itu, aspek terakhir yakni engagement atau dampak di media sosial dengan bobot 10 persen. Aspek tersebut berlaku bagi konten yang diunggah ke media sosial dan dinilai berdasarkan kemampuan karya dalam menarik perhatian serta memberikan dampak positif. Meski mengedepankan kreativitas, peserta tetap diminta memperhatikan etika dan ketentuan pelayanan rumah sakit selama proses pembuatan konten.

Panitia menekankan agar tidak ada pasien yang terekspos dan proses pembuatan konten tidak mengganggu pelayanan kepada pasien.

Daftar Pemenang Lomba Konten Foto

Berikut daftar pemenang kategori konten foto:

1. Foto Terkreatif 1: Ruang Perawatan VIP Nusa Indah.
2. Foto Terkreatif 2: Ruang Perawatan ICU (Intensive Care Unit).
3. Foto Terkreatif 3: Admin Pelayanan.

Daftar Pemenang Lomba Konten Video

Sementara untuk kategori konten video, pemenangnya yakni:

1. Video Inspiratif, Kreatif 1: Ruang Perawatan VIP Nusa Indah.
2. Video Inspiratif, Kreatif 2: Klinik Kandungan.
3. Video Inspiratif, Kreatif 3: Instalasi Radiologi.
4. Video Inspiratif, Kreatif Favorit: Andara (Finance).
5. Video Inspiratif, Kreatif Favorit: Ruang Perawatan ICU (Intensive Care Unit).

Melalui kegiatan tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK berharap para karyawan dapat menyalurkan kreativitas sekaligus menumbuhkan semangat cinta tanah air.

Semangat kemerdekaan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan komitmen dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

Hadapi Pasien Krisis Kejiwaan yang Bisa Ancam Nyawa, RSUD dr. H. Jusuf SK Latih Kegawatdaruratan Psikiatri untuk Dokter dan Perawat

Hadapi Pasien Krisis Kejiwaan yang Bisa Ancam Nyawa, RSUD dr. H. Jusuf SK Latih Kegawatdaruratan Psikiatri untuk Dokter dan Perawat

TARAKAN — Ketika seseorang mengalami krisis kejiwaan, waktu menjadi faktor penting. Tindakan yang terlambat atau tidak tepat bukan hanya dapat membahayakan pasien, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan dengan menggelar Pelatihan Kegawatdaruratan Psikiatri bagi dokter umum dan perawat jiwa. berdasarkan data Riskesdas 2018 prevalensi gangguan mental emosional mencapai 9,8 per mil dan depresi sebesar 6.1 per mil pada penduduk usia ≥ 15 tahun. perawat sebagai garda terdepan di fasilitas pelayanan kesehatan jiwa dituntut memiliki keterampilan mendalam dalam memberikan asuhan keperawatan kegawatdaruratan psikiatri.

Pelatihan berlangsung selama lima hari, Selasa hingga Sabtu, 1-5 September 2026, di Hall A Lantai 6 RSUD dr. H. Jusuf SK. Sebanyak 35 tenaga kesehatan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 5 dokter umum dan 30 perawat jiwa dari berbagai jenjang jabatan fungsional.

Pelatihan ini tidak sekadar menjadi kegiatan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk memastikan pasien yang datang dalam kondisi krisis kejiwaan dapat segera dikenali tingkat kegawatdaruratannya dan memperoleh penanganan yang tepat.

Kemampuan melakukan triase dan skrining secara cepat dan akurat menjadi salah satu fokus utama. Peserta juga dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan skrining, penatalaksanaan awal hingga memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami krisis maupun kegawatdaruratan psikiatri.

Pembukaan pelatihan dilakukan Wakil Direktur Keuangan yang juga bertindak sebagai Plh. Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, Aripuddin Maskur, SE., MM. Dalam sambutannya, Aripuddin menegaskan bahwa kegawatdaruratan psikiatri merupakan kondisi yang membutuhkan respons cepat dan tepat. Sebab, situasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pasien, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menyangkut keselamatan keluarga, petugas kesehatan maupun orang lain di sekitar pasien.

“Kegawatdaruratan psikiatri merupakan salah satu kondisi yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat, karena menyangkut keselamatan pasien maupun orang-orang di sekitarnya,” ujar Aripuddin.

Ia berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan secara serius sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.

“Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan sebaik-baiknya, agar ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam memberikan pelayanan yang aman, cepat, dan profesional kepada masyarakat,” katanya.

Aripuddin juga mengingatkan agar pelatihan tersebut tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kewajiban administratif. Menurutnya, pelatihan harus menjadi momentum untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di RSUD dr. H. Jusuf SK, terutama dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan kejiwaan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Selama lima hari, para peserta mendapatkan materi yang cukup kompleks dan dekat dengan situasi yang dapat ditemui dalam pelayanan kegawatdaruratan psikiatri. Materi yang diberikan antara lain mengenai etik dan perilaku caring perawat, asuhan kegawatdaruratan psikiatri pada penyalahgunaan zat, patient safety, antikorupsi, penerapan Safewards dan WHO-QR.

Peserta juga mempelajari asesmen kegawatdaruratan psikiatri menggunakan sejumlah instrumen, seperti PANSS-EC, RUFA, asesmen agitasi, hingga RASS Score. Penanganan pasien dengan serangan panik juga menjadi bagian dari materi pelatihan.

Tidak berhenti di sana, peserta dibekali pengetahuan mengenai kegawatdaruratan psikiatri pada pasien dengan kondisi medis fisik dan sindrom neuroleptik maligna (SNM), penggunaan psikofarmaka serta monitoring efek samping obat atau MESO.

Aspek keselamatan petugas juga menjadi perhatian melalui materi employee safety.
Para peserta turut mendapatkan materi mengenai penatalaksanaan Electroconvulsive Therapy (ECT), penanganan pasien dengan kekerasan, intervensi krisis, hingga teknik de-eskalasi verbal.

Materi mengenai pasien dengan risiko bunuh diri juga menjadi bagian penting dalam pelatihan, termasuk pengetahuan mengenai penggunaan restraint atau pengekangan pada kondisi kegawatdaruratan psikiatri.

Beragam materi tersebut diharapkan membuat tenaga kesehatan tidak hanya mampu mengenali kondisi pasien, tetapi juga mampu menentukan respons yang aman ketika menghadapi situasi krisis.

Untuk memperkuat materi, RSUD dr. H. Jusuf SK menghadirkan narasumber dari internal maupun eksternal rumah sakit. Narasumber internal di antaranya dr. Rahmawati, Sp.KJ, dr. Andri Ardhany, Sp.N, Ns. Sardi Muhammad, S.Kep, Ns. Nurlela, SKM., S.Kep, Ns. Ipung Jatmiko, S.Kep, Ns. Bethy Mariana, S.Kep, dan Ns. Lestina, S.Kep.

Sementara dari eksternal, pelatihan menghadirkan narasumber dari RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, yakni Ns. Abdul Jalil, M.Kep., Sp.Kep.J., FISQua dan Ns. Purwono, S.Kep. Kehadiran narasumber dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam diharapkan memperkaya perspektif peserta dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan psikiatri.

Melalui pelatihan tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK menargetkan tenaga kesehatan yang terlibat semakin siap, sigap, dan kompeten ketika menghadapi pasien dalam kondisi krisis kejiwaan.

Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tersebut diharapkan bermuara pada satu hal, pasien mendapatkan pertolongan yang lebih cepat, aman, tepat, dan manusiawi ketika berada dalam kondisi paling rentan. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

Jelang Akreditasi, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Perkuat Kesiapsiagaan Kebakaran

Jelang Akreditasi, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Perkuat Kesiapsiagaan Kebakaran

TARAKAN — Menjelang pelaksanaan survei akreditasi pada akhir September 2026, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, khususnya potensi kebakaran di lingkungan rumah sakit.

Upaya tersebut dilakukan melalui apel pagi yang digelar secara khusus di Lantai 6, Hall A RSUD dr. H. Jusuf SK, Kampung Satu/Skip, Tarakan, Senin (31/8/2026).

Berbeda dari apel rutin yang biasanya digelar di lapangan, kegiatan kali ini diisi dengan sosialisasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) oleh Tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS). Apel dipimpin Wakil Direktur Umum RSUD dr. H. Jusuf SK, Yusran, ST., MT.

Sosialisasi APAR menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan seluruh civitas hospitalia dalam menghadapi situasi darurat. Kegiatan ini sekaligus mendukung persiapan rumah sakit menghadapi survei akreditasi yang dijadwalkan berlangsung pada akhir September mendatang.

Aspek keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, termasuk kebakaran, merupakan bagian yang diperhatikan dalam standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK).

Dalam sosialisasi tersebut, petugas K3RS memberikan pemahaman praktis mengenai penggunaan APAR secara tepat dan aman. Para peserta diperkenalkan dengan metode PASS, yakni empat langkah sederhana dalam penggunaan APAR saat menghadapi kebakaran pada tahap awal.

Langkah pertama adalah Pull (Tarik), yakni menarik pin atau segel pengaman pada tuas APAR untuk membuka kunci sebelum alat digunakan. Setelah pin tercabut, lakukan uji fungsi APAR terlebih dahulu dengan menekan tuas sebentar untuk memastikan alat benar-benar dapat berfungsi dan mengeluarkan bahan pemadam dengan baik sebelum diarahkan ke titik api. Uji fungsi ini penting dilakukan agar pengguna tidak salah sasaran atau kehilangan waktu berharga apabila ternyata APAR tidak berfungsi optimal saat kondisi darurat sesungguhnya.

Berikutnya Aim (Arahkan), yaitu mengarahkan nozzle atau corong APAR ke dasar api, bukan ke bagian atas kobaran. Langkah ini bertujuan agar bahan pemadam dapat diarahkan langsung ke sumber api.

Kemudian Squeeze (Tekan), dengan menekan tuas APAR secara perlahan dan mantap untuk mengeluarkan bahan pemadam.

Terakhir Sweep (Sapukan), yakni menyapukan nozzle dari sisi ke sisi secara merata hingga api berhasil dikendalikan.

Petugas K3RS juga mengingatkan bahwa penggunaan APAR harus tetap mengutamakan keselamatan. Petugas maupun warga rumah sakit perlu menjaga jarak aman, memperhatikan arah angin, serta tidak memaksakan diri menghadapi api yang sudah membesar.

Jika api tidak kunjung padam atau justru semakin membesar, pengguna APAR diimbau segera menjauh dari lokasi dan meminta bantuan kepada petugas yang berwenang.

Melalui kegiatan tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK memastikan pemahaman mengenai keselamatan dan kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas K3RS.

Seluruh civitas hospitalia, mulai dari tenaga medis, tenaga kesehatan, tenaga penunjang hingga pegawai administrasi, diharapkan memiliki pengetahuan dasar mengenai penggunaan APAR serta langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.

Kesiapsiagaan tersebut penting mengingat rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan publik dengan aktivitas yang berlangsung sepanjang waktu. Setiap hari, lingkungan rumah sakit dipenuhi pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, tenaga penunjang, serta pekerja lainnya.

Dengan pemahaman yang baik, setiap orang di lingkungan rumah sakit diharapkan mampu mengambil tindakan awal secara tepat sesuai kondisi, sembari menunggu penanganan lebih lanjut dari petugas.

Dengan memadukan edukasi keselamatan dan kegiatan kebersamaan, apel pagi kali ini menjadi momentum bagi RSUD dr. H. Jusuf SK untuk terus membangun budaya kerja yang sigap, aman, kompak, serta siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat (hms_rsud/yeisi)

(more…)

RSUD dr. H. Jusuf SK Jalani Simulasi Akreditasi, Surveior Soroti Pentingnya Dukungan Anggaran

RSUD dr. H. Jusuf SK Jalani Simulasi Akreditasi, Surveior Soroti Pentingnya Dukungan Anggaran

TARAKAN – RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan menjalani simulasi survei akreditasi (bimbingan) yang dilaksanakan Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna (LARS DHP), Rabu-Jumat (19-21 Agustus 2026).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi bagian penting dari persiapan RSUD dr. H. Jusuf SK sebelum menghadapi survei akreditasi yang sesungguhnya.

Simulasi ini sekaligus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kesiapan rumah sakit dalam menerapkan standar mutu pelayanan, tata kelola rumah sakit, hingga keselamatan pasien.

Plt. Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B, Sp.PK., M.H., mengatakan simulasi tersebut tidak sekadar menjadi tahapan administratif, tetapi juga menjadi sarana evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan seluruh unit pelayanan.
“Simulasi ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengetahui sejauh mana kesiapan RSUD dr. H. Jusuf SK dalam memenuhi standar akreditasi, sekaligus memperbaiki hal-hal yang masih perlu disempurnakan sebelum survei akreditasi yang sebenarnya dilaksanakan,” ujar dr. Budy.

Menurutnya, keberhasilan menghadapi akreditasi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga bagaimana standar tersebut benar-benar diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
“Ini bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari komitmen kita bersama dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kepentingan pasien,” lanjutnya.

Rangkaian simulasi survei akreditasi dilakukan secara bertahap untuk menggambarkan kondisi survei yang sesungguhnya.
Pada hari pertama, tim surveior melakukan telaah dokumen.
Berbagai dokumen rumah sakit diperiksa, mulai dari regulasi, kebijakan, panduan, standar prosedur operasional (SPO), hingga bukti pelaksanaan program mutu dan keselamatan pasien.

Sementara pada hari kedua dan ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan telusur lapangan oleh surveior manajemen dan surveior teknis.
Tim surveior turun langsung ke berbagai unit pelayanan untuk mengamati pelaksanaan pelayanan, melakukan wawancara dengan staf, sekaligus memverifikasi kesesuaian antara dokumen yang dimiliki rumah sakit dengan praktik pelayanan di lapangan.

Sejumlah aspek penting menjadi perhatian dalam telusur tersebut.
Di antaranya Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), yang berkaitan dengan kesiapan sarana, prasarana, serta sistem keamanan rumah sakit.

Kemudian Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), untuk memastikan penerapan kewaspadaan standar dalam mencegah penularan infeksi di lingkungan rumah sakit.
Aspek Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS) juga turut ditelaah, khususnya berkaitan dengan efektivitas kepemimpinan dan manajemen dalam menjalankan fungsi pengambilan keputusan strategis.

Selain itu, surveior melakukan penilaian terhadap Sasaran Keselamatan Pasien (SKP), Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP), serta rekam medis.
Telaah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pelayanan pasien berjalan sesuai standar dan seluruh tindakan pelayanan terdokumentasi secara lengkap serta akurat.

Simulasi survei akreditasi tersebut melibatkan tiga surveior berpengalaman dari LARS DHP.
Mereka yakni dr. Roudhotul Ismailiya Noor, Sp.PK, Subs. BDKT (K)., M.H., C.MC., FISQua selaku Ketua Tim Surveior, dr. Dewi R. Anggraini, M.Kes., M.P.H., FISQua, serta Sri Anty Handayani, S.Kp., M.Kep.

Ketua Tim Surveior, dr. Roudhotul Ismailiya Noor, mengajak seluruh civitas hospitalia RSUD dr. H. Jusuf SK memanfaatkan simulasi tersebut sebagai kesempatan untuk melakukan pembenahan.
Ia meminta tenaga medis, tenaga kesehatan maupun tenaga penunjang bersikap proaktif, terbuka dan kooperatif selama proses telusur berlangsung.

Menurutnya, keterbukaan seluruh jajaran rumah sakit sangat diperlukan agar berbagai persoalan yang masih ditemukan dapat segera diketahui dan diperbaiki sebelum survei akreditasi yang sebenarnya.

Ketua Tim Surveior juga menekankan pentingnya peran dan dukungan pemilik RSUD dr. H. Jusuf SK dalam menjaga keberlangsungan pelayanan rumah sakit.

Dukungan tersebut dinilai semakin penting karena RSUD dr. H. Jusuf SK saat ini membutuhkan dukungan anggaran, khususnya untuk pemeliharaan bangunan dan alat kesehatan yang tersedia di rumah sakit.

Ketersediaan sarana dan prasarana yang layak menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga mutu dan keselamatan pelayanan.
Karena itu, keberhasilan peningkatan mutu rumah sakit tidak hanya menjadi tanggung jawab jajaran manajemen dan tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemilik rumah sakit.

Hal tersebut menjadi perhatian penting dalam proses akreditasi, mengingat pelayanan yang bermutu dan aman membutuhkan dukungan sistem, sumber daya manusia, sarana, prasarana, serta pembiayaan yang memadai.

Melalui simulasi tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK diharapkan dapat mengidentifikasi berbagai kekurangan yang masih ditemukan sebelum memasuki survei akreditasi sesungguhnya.
Kekompakan seluruh civitas hospitalia menjadi salah satu kunci agar setiap standar yang dipersyaratkan dapat diterapkan secara konsisten.

Akreditasi rumah sakit pada akhirnya bukan hanya mengenai pencapaian predikat, tetapi bagaimana standar mutu dan keselamatan pasien benar-benar menjadi budaya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan persiapan yang matang serta dukungan seluruh pihak, RSUD dr. H. Jusuf SK diharapkan mampu mempertanggungjawabkan kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat.
Peningkatan kualitas pelayanan tersebut juga diharapkan berdampak pada semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap RSUD dr. H. Jusuf SK sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di Kalimantan Utara. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

Kenali Alur Sisrute, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Pastikan Proses Rujukan Pasien Lebih Cepat dan Transparan

Kenali Alur Sisrute, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Pastikan Proses Rujukan Pasien Lebih Cepat dan Transparan

TARAKAN – RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, terus memperkuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satunya melalui penerapan Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute), untuk mempermudah proses rujukan pasien ke rumah sakit lain.

Sistem berbasis digital ini diterapkan agar pelayanan rujukan berlangsung lebih cepat, transparan, dan terkoordinasi antar fasilitas kesehatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B, Sp.PK., M.H., mengatakan, Sisrute menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan rujukan yang aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

“Melalui sistem rujukan terintegrasi ini, pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan dapat memperoleh layanan secara lebih tepat waktu. Selain itu, pasien dan keluarga juga mendapatkan kepastian serta transparansi informasi selama proses rujukan berlangsung,” kata dr. Budy.

Sisrute merupakan platform resmi Kementerian Kesehatan RI yang digunakan rumah sakit di seluruh Indonesia untuk mengoordinasikan rujukan pasien secara daring (online) dan real-time, sehingga komunikasi antar rumah sakit dapat berlangsung lebih efektif.

ALUR RUJUKAN MELALUI SISRUTE

Proses rujukan diawali ketika Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) menilai pasien memerlukan penanganan lanjutan di rumah sakit yang memiliki fasilitas atau layanan lebih lengkap.

Setelah pasien dan keluarga menyetujui rencana tersebut, petugas rumah sakit menginput data klinis pasien ke dalam aplikasi Sisrute dan mengirimkan permohonan rujukan kepada rumah sakit tujuan.

Selanjutnya, rumah sakit rujukan akan meninjau data yang diterima. Jika permohonan diproses, status pada aplikasi berubah menjadi “Direspon”.

Pada tahap ini, rumah sakit tujuan biasanya memberikan arahan lanjutan, seperti meminta petugas menghubungi Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta mengirimkan kembali data pasien untuk memastikan kesiapan pelayanan.

Petugas kemudian melakukan koordinasi lanjutan guna memastikan ketersediaan DPJP yang akan menangani pasien sekaligus memastikan ketersediaan tempat perawatan.

Apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi, status pada Sisrute berubah menjadi “Dirujuk”, yang menandakan rumah sakit tujuan telah menyetujui proses rujukan dan pasien siap dipindahkan sesuai prosedur medis.

EDUKASI BIAYA PENDAMPING PASIEN

RSUD dr. H. Jusuf SK juga mengingatkan masyarakat agar memahami aspek pembiayaan selama proses rujukan.
Dalam rujukan antar rumah sakit, biaya jasa perawat atau tenaga kesehatan yang mendampingi pasien selama perjalanan menjadi tanggung jawab pasien maupun keluarga. Informasi tersebut disampaikan sejak awal melalui proses edukasi sebelum rujukan dilakukan.

Menurut manajemen rumah sakit, keterbukaan informasi tersebut penting agar keluarga pasien dapat mempersiapkan kebutuhan selama proses rujukan dan tidak terjadi kesalahpahaman mengenai komponen biaya yang berada di luar biaya pelayanan medis yang telah dijamin, termasuk oleh BPJS Kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Melalui penerapan Sisrute, pihak RSUD dr. H. Jusuf SK berharap masyarakat semakin memahami mekanisme rujukan antar rumah sakit. Sistem ini diharapkan mampu menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi, transparan, efektif, serta mengutamakan keselamatan pasien sebagai prioritas utama. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

Tegaskan Komitmen Lindungi Privasi Pasien, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Gelar Sumpah Kerahasiaan Rekam Medis

Tegaskan Komitmen Lindungi Privasi Pasien, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Gelar Sumpah Kerahasiaan Rekam Medis

 

TARAKAN – Komitmen menjaga kerahasiaan data dan privasi pasien terus diperkuat RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah menggelar Sumpah Kerahasiaan Rekam Medis bagi tenaga kesehatan, tenaga pendukung, serta seluruh pegawai rumah sakit yang memiliki akses terhadap informasi pasien, Rabu (5/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan RSUD dr. H. Jusuf SK itu dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B., Sp.PK., M.H. Sumpah tersebut menjadi pengingat sekaligus penegasan bahwa setiap informasi medis pasien merupakan data yang bersifat rahasia dan hanya dapat digunakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam arahannya, dr. Budy Azis menegaskan bahwa rekam medis tidak hanya berfungsi sebagai dokumen pelayanan kesehatan, tetapi juga memuat data pribadi dan informasi sensitif yang harus dijaga oleh seluruh pihak yang memiliki kewenangan mengaksesnya.

Menurutnya, menjaga kerahasiaan rekam medis merupakan bagian penting dari perlindungan hak pasien sekaligus cerminan profesionalisme tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya.

“Menjaga kerahasiaan pasien berarti menjaga martabat pasien sekaligus menjaga integritas profesi dan nama baik rumah sakit,” tegas dr. Budy.

Ia menambahkan, pelaksanaan sumpah tersebut bukan sekadar memenuhi tuntutan regulasi maupun persyaratan akreditasi rumah sakit. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi komitmen moral, etika profesi, dan tanggung jawab bersama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan RSUD dr. H. Jusuf SK.

“Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama pelayanan kesehatan. Karena itu, setiap pegawai memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi pasien tidak disalahgunakan ataupun diakses oleh pihak yang tidak berwenang,” ujarnya.

Sebelumnya, perwakilan Kelompok Kerja (Pokja) Manajemen Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Opan Setiawan, S.Tr.RMIK, menyampaikan apresiasi kepada jajaran manajemen rumah sakit dan seluruh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa kewajiban menjaga kerahasiaan rekam medis tidak hanya melekat pada tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh pegawai rumah sakit yang dalam pelaksanaan tugasnya memiliki akses terhadap data pasien.

Menurut Opan, setiap informasi mengenai pasien hanya boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian, maupun keperluan lain yang diizinkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Setiap informasi mengenai pasien hanya boleh digunakan untuk kepentingan pelayanan, pendidikan, penelitian, maupun ketentuan lain yang diperbolehkan sesuai peraturan yang berlaku,” katanya.

Melalui pelaksanaan sumpah kerahasiaan rekam medis ini, RSUD dr. H. Jusuf SK berharap seluruh pegawai semakin memahami batasan penggunaan informasi pasien sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip perlindungan data kesehatan.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam memperkuat tata kelola pelayanan kesehatan yang profesional, bermutu, beretika, serta berorientasi pada perlindungan hak-hak pasien di tengah meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap keamanan informasi medis di era digital.

Dengan komitmen yang diperkuat melalui sumpah tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK menegaskan bahwa menjaga kerahasiaan rekam medis bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari budaya kerja yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh insan rumah sakit sebagai fondasi pelayanan kesehatan yang aman, terpercaya, dan berintegritas. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Genjot Persiapan Akreditasi, Bidik Pertahankan Predikat Paripurna

RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Genjot Persiapan Akreditasi, Bidik Pertahankan Predikat Paripurna

TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK Tarakan mulai mematangkan persiapan menghadapi survei akreditasi rumah sakit dengan menggandeng Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna (LARS DHP). Pendampingan secara intensif dilakukan selama dua hari, Rabu–Kamis (29–30/7/2026), difokuskan untuk memastikan seluruh standar pelayanan, mutu, dan keselamatan pasien diterapkan secara optimal.

Bimbingan akreditasi yang digelar secara luring tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit mempertahankan predikat Paripurna, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sesuai standar nasional.

Dalam kegiatan itu, tim pendamping LARS DHP melakukan penilaian menyeluruh terhadap kesiapan rumah sakit. Berbagai aspek menjadi perhatian, mulai dari pelayanan klinis, manajemen fasilitas dan keselamatan, pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), tata kelola rumah sakit, hingga implementasi program mutu dan keselamatan pasien.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Aziz B., Sp.PK., M.H., mengatakan akreditasi bukan hanya bertujuan memperoleh nilai terbaik, tetapi menjadi instrumen penting untuk membangun budaya pelayanan yang berkualitas dan berorientasi pada keselamatan pasien.

“Kami berharap seluruh tim akreditasi dan semua pihak yang terlibat dapat menjadikan momentum bimbingan ini sebagai kesempatan untuk belajar, memperbaiki kekurangan, dan menyamakan pemahaman terhadap standar yang berlaku. Fokus kita satu, yaitu mempertahankan predikat Paripurna yang telah diraih rumah sakit ini,” ujar dr Budy.

Menurutnya, keberhasilan mempertahankan akreditasi bergantung pada keterlibatan seluruh unsur rumah sakit, bukan hanya tim akreditasi. Karena itu, setiap unit kerja didorong memahami dan mengimplementasikan standar pelayanan secara konsisten.

Sementara itu, perwakilan tim pendamping LARS DHP, dr. Edy Iskandar, Sp.PD., FINASIM., M.A.R.S., mengapresiasi kesiapan manajemen dan seluruh jajaran RSUD dr. H. Jusuf SK dalam mengikuti proses pendampingan.

Ia menilai antusiasme yang ditunjukkan rumah sakit menjadi modal penting untuk menghadapi survei akreditasi yang sesungguhnya. “Kami berkomitmen memberikan pendampingan secara maksimal agar seluruh standar akreditasi dapat dipahami dan diterapkan dengan baik oleh setiap unit. Kami berharap proses ini menjadi sarana belajar bersama, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif, sehingga rumah sakit siap menghadapi survei dan mampu mempertahankan status Paripurna,” kata dr. Edy.

Selama proses pendampingan, tim LARS DHP juga membantu rumah sakit mengidentifikasi sejumlah aspek yang masih memerlukan penyempurnaan, baik dari sisi dokumen, tata kelola, maupun implementasi pelayanan di lapangan.

Hasil evaluasi tersebut nantinya menjadi dasar perbaikan sebelum pelaksanaan survei akreditasi resmi.

Sebagai tindak lanjut, seluruh hasil pendampingan akan dirangkum dalam laporan yang disampaikan kepada Sekretariat LARS DHP paling lambat tiga hari kerja setelah kegiatan berakhir.

Laporan tersebut akan menjadi acuan bagi RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan untuk menindaklanjuti setiap rekomendasi demi menjaga standar mutu pelayanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Dengan persiapan yang lebih matang, pihak rumah sakit milik Pemprov Kaltara itu berharap, mampu mempertahankan predikat Paripurna, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang profesional, aman, dan berkualitas di Kalimantan Utara. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

CT Scan RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Kembali Beroperasi, Pasien Tak Perlu Lagi Menunggu Lama untuk Pemeriksaan

CT Scan RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Kembali Beroperasi, Pasien Tak Perlu Lagi Menunggu Lama untuk Pemeriksaan

TARAKAN – Kabar baik bagi masyarakat Kalimantan Utara. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK Tarakan memastikan layanan CT Scan kini kembali beroperasi normal setelah sempat mengalami gangguan teknis.

Perbaikan tersebut telah rampung beberapa hari lalu sehingga pelayanan pemeriksaan penunjang bagi pasien kembali berjalan optimal.

Berdasarkan laporan teknis petugas elektromedis (ATEM) RSUD dr. H. Jusuf SK, gangguan pada alat CT Scan disebabkan kerusakan pada komponen BR64 Air Fan Replacement Kit, yang merupakan bagian penting dari sistem pendingin perangkat.

Akibat kerusakan tersebut, alat tidak dapat dioperasikan secara maksimal sebelum dilakukan penggantian komponen.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B., Sp.PK., M.H., mengatakan pihak rumah sakit bergerak cepat melakukan penanganan agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu dalam waktu lama.

“Kami memastikan seluruh layanan penting, termasuk CT Scan, dapat kembali diakses dengan baik oleh pasien. Ini menjadi prioritas kami agar masyarakat tidak perlu dirujuk jauh hanya untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang,” ujar dr. Budy.

Menurutnya, keberadaan CT Scan memiliki peran strategis dalam pelayanan kesehatan karena menjadi salah satu alat utama untuk membantu dokter menegakkan diagnosis secara cepat dan akurat.

Pemeriksaan menggunakan CT Scan dibutuhkan untuk mendeteksi berbagai kondisi medis, mulai dari cedera akibat kecelakaan, penyakit organ dalam, gangguan pembuluh darah dan jantung, hingga berbagai kasus keganasan seperti kanker.

Dengan beroperasinya kembali alat tersebut, masyarakat Kalimantan Utara kini dapat kembali memperoleh layanan diagnostik tanpa harus menunggu lama maupun mencari fasilitas kesehatan di luar daerah.

Selain memulihkan layanan CT Scan, RSUD dr. H. Jusuf SK juga terus melakukan penguatan layanan kesehatan lainnya. Salah satunya melalui persiapan pengembangan fasilitas radioterapi yang ditargetkan menjadi layanan unggulan bagi pasien kanker di Kalimantan.

Rumah sakit rujukan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara itu optimistis peningkatan fasilitas dan pelayanan secara bertahap akan memperkuat posisinya sebagai pusat layanan kesehatan rujukan di wilayah Kalimantan Utara.

Dengan tersedianya layanan CT Scan yang kembali normal dan rencana pengembangan radioterapi, RSUD dr. H. Jusuf SK berharap masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang semakin lengkap, cepat, dan berkualitas tanpa harus melakukan rujukan ke luar daerah. (hms_rsud/yeisi)

(more…)

RSUD dr. H. Jusuf SK Siapkan Layanan Radioterapi, Bidik jadi Pusat Rujukan Kanker Regional Kalimantan

RSUD dr. H. Jusuf SK Siapkan Layanan Radioterapi, Bidik jadi Pusat Rujukan Kanker Regional Kalimantan

TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK terus memperkuat transformasi layanan kesehatan dengan menyiapkan fasilitas radioterapi bagi pasien kanker. Rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) itu, menargetkan menjadi salah satu pusat rujukan layanan kanker regional di Kalimantan, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada layanan di luar daerah.

Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan visitasi sekaligus persiapan Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi (PPR) Medik bidang Radiologi Diagnostik dan Intervensional (RDI), Kamis (23/7/2026).

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama RSUD dr. H. Jusuf SK dengan Yayasan Professor Doktor Syamsir Dewang sebagai bagian dari tahapan pengembangan layanan radioterapi.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B., Sp.PK., M.H., mengatakan, pengembangan layanan radioterapi diawali dengan penguatan sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi serta pemenuhan infrastruktur sesuai standar keselamatan radiasi.

“Kami berkomitmen penuh menghadirkan layanan radioterapi di RSUD dr. H. Jusuf SK. Ini merupakan upaya nyata untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan bagi pasien kanker. Ke depan, masyarakat Kalimantan Utara tidak perlu lagi dirujuk jauh ke luar daerah untuk mendapatkan terapi yang memadai,” ujar dr. Budy.

Menurutnya, kesiapan SDM menjadi faktor penting dalam mendukung operasional layanan radioterapi yang aman, profesional, dan sesuai regulasi.

Selain peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, RSUD juga tengah mematangkan pembangunan bunker radioterapi, fasilitas khusus yang menjadi syarat utama dalam pengoperasian alat terapi radiasi.

“Pembangunan bunker radioterapi merupakan langkah strategis yang sedang kami siapkan. Fasilitas ini menjadi fondasi utama agar layanan radioterapi dapat beroperasi sesuai standar keselamatan radiasi yang berlaku,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan, Prof. Dr. Syamsir Dewang, M.Eng.Sc., F.Med., menilai langkah RSUD dr. H. Jusuf SK sangat strategis dalam menjawab tingginya kebutuhan layanan kanker di wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara yang memiliki karakteristik sebagai daerah perbatasan.

Menurutnya, keberadaan layanan radioterapi di Tarakan akan memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rumah sakit di luar pulau.

“Pengembangan layanan radioterapi di RSUD dr. H. Jusuf SK memiliki potensi besar menjadi pusat pelayanan radioterapi regional di Kalimantan. Ini merupakan langkah penting untuk mendekatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, hadirnya fasilitas tersebut akan memberikan manfaat besar bagi pasien dan keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun psikologis.

“Pasien tidak lagi harus melakukan perjalanan jauh ke luar kota untuk menjalani terapi. Biaya transportasi dapat ditekan, waktu lebih efisien, dan kondisi psikologis pasien maupun keluarga akan jauh lebih baik karena dapat menjalani pengobatan lebih dekat dengan tempat tinggal,” ungkap Prof. Syamsir.

Pengembangan layanan radioterapi ini menjadi bagian dari upaya RSUD dr. H. Jusuf SK menghadirkan layanan kanker terpadu yang lebih lengkap di Kalimantan Utara. Dengan percepatan pemenuhan SDM dan pembangunan infrastruktur, rumah sakit ini diharapkan segera bertransformasi menjadi pusat rujukan kanker regional yang mampu memberikan pelayanan cepat, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat Kalimantan.

Langkah tersebut sekaligus menjadi harapan baru bagi pasien kanker di wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Utara, untuk memperoleh akses terapi yang lebih mudah tanpa harus meninggalkan daerahnya demi mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. (hms_rsud/yeisi)

(more…)